
Harga minyak global melonjak tajam menyusul penolakan tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap proposal balasan Iran yang diajukan untuk mengakhiri ketegangan dengan AS dan Israel. Trump secara eksplisit menyatakan ketidakpuasannya, menyebut proposal tersebut "SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!". Pernyataan ini semakin memperuncing kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
Di tengah memanasnya situasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut memberikan peringatan bahwa konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir. Ia menekankan masih adanya material nuklir dan uranium yang diperkaya yang belum dikeluarkan dari Iran, serta berlanjutnya produksi rudal balistik oleh pihak Iran. "Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, dan masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Netanyahu, menggarisbawahi kompleksitas situasi yang masih jauh dari kata selesai.
Reaksi pasar terhadap ketidakpastian ini sangat kentara. Minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan sebesar 3,08%, mencapai US$ 95,42 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juli juga menguat signifikan, naik 3,16% menjadi US$ 104,49 per barel. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat memburuknya hubungan geopolitik di kawasan penghasil minyak utama dunia.
Analis dari Citi, dalam laporan terbarunya, menilai bahwa harga minyak masih memiliki potensi untuk terus meningkat jika negosiasi antara Iran dan AS menemui jalan buntu. Meskipun demikian, Citi juga mencatat bahwa pasar minyak saat ini masih ditopang oleh beberapa faktor positif, termasuk tingginya persediaan minyak, pelepasan cadangan strategis, lemahnya permintaan di negara-negara berkembang, serta sinyal deeskalasi yang sesekali muncul di Timur Tengah.
Namun, Citi juga menyoroti risiko kenaikan harga minyak yang tetap signifikan, terutama karena Iran masih memegang kendali besar atas waktu dan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran minyak yang krusial bagi perdagangan global. "Kami memperkirakan Iran akan mencapai kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz sekitar akhir Mei. Namun kami tetap melihat risiko bahwa proses ini akan lebih lama atau hanya dibuka sebagian, sehingga gangguan bisa berlangsung lebih lama," tulis Citi, menekankan bahwa ketidakpastian terkait Selat Hormuz menjadi salah satu faktor kunci yang dapat mendorong harga minyak lebih tinggi lagi.
Situasi ini juga berpotensi berdampak pada kebijakan energi global dan upaya stabilisasi pasar. Negara-negara importir minyak akan terus memantau perkembangan di Timur Tengah dengan cermat, sementara produsen minyak akan menghadapi tekanan untuk meningkatkan produksi guna mengimbangi potensi defisit pasokan. Eskalasi ketegangan di kawasan ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan pasar energi global terhadap gejolak geopolitik.
Presiden Trump sendiri, dalam cuitannya, menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap respons Iran, yang menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih sangat menantang. Pernyataan Netanyahu semakin memperkuat pandangan bahwa tantangan keamanan di kawasan tersebut masih kompleks dan memerlukan solusi jangka panjang. Pasar energi global pun bereaksi dengan cepat, mencerminkan ketidakpastian yang meningkat dan potensi risiko pasokan yang lebih besar di masa mendatang.











