Rupiah Menguat, Cadangan Devisa RI Turun di April 2026

Budi Santoso

Rupiah Menguat, Cadangan Devisa RI Turun di April 2026

Pada Jumat (24/4/2026), nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp17.268 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp17.300. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan global yang mengguncang mata uang kawasan. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, mengalami penurunan dari 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026. Penurunan ini merupakan tren yang konsisten sepanjang kuartal I 2026. Menurut Direktur Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah, yang diimbangi dengan pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kebijakan stabilisasi tersebut merupakan respons BI terhadap meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa per akhir April 2026 setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih berada di atas standar kecukupan internasional, yaitu sekitar 3 bulan impor.

BI menilai bahwa cadangan devisa yang ada mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. BI meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap baik ke depan, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai dan aliran masuk modal asing. Hal ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Baca Juga :  Polemik Kuota Ikan Nila: Aqua Farm Boleh Tetap Beroperasi di Toba

BI terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas perekonomian demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Meskipun terjadi penurunan cadangan devisa, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat, dan pemerintah serta BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar global. Penguatan rupiah kali ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan global, namun kewaspadaan tetap diperlukan.

Also Read

Tinggalkan komentar