Ketahanan Ekonomi Indonesia: Daya Beli Rakyat Lebih Penting dari Rupiah

Budi Santoso

Ketahanan Ekonomi Indonesia: Daya Beli Rakyat Lebih Penting dari Rupiah

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia seharusnya tidak hanya diukur dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi lebih krusial lagi pada kemampuan negara dalam menjaga daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Perdebatan publik yang kerap terfokus pada fluktuasi kurs rupiah dianggap kurang relevan bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang justru merasakan dampak langsung dari kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari. "Sebagian besar rakyat Indonesia tidak memantau pergerakan kurs setiap hari. Mereka melihat harga cabai, harga beras, ongkos transportasi, harga minyak goreng, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Di situlah sesungguhnya kekuatan ekonomi sebuah negara diuji," ujar Azis Subekti pada Kamis (4/6/2026).

Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah memang perlu diwaspadai, namun ancaman sesungguhnya baru terasa ketika dampaknya merembet ke rumah tangga melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. "Pelemahan rupiah baru menjadi ancaman besar ketika berhasil masuk ke meja makan rakyat. Karena itu fokus utama kita bukan hanya menjaga stabilitas kurs, melainkan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjangkau," tegasnya. Azis merujuk pada sejarah ekonomi global yang menunjukkan banyak negara mampu tumbuh meski menghadapi tekanan mata uang, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Kekuatan ekonomi mereka, menurutnya, ditentukan oleh kapasitas produksi, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan kemampuan menjaga inflasi.

Baca Juga :  Rupiah Melemah Tertekan Global, Struktur Ekonomi Jadi Sorotan

Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 menunjukkan inflasi tahunan Indonesia sebesar 3,08 persen yang masih relatif terkendali, Azis Subekti menyoroti kontributor terbesar inflasi, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang mencatat inflasi 4,94 persen dengan andil 1,43 persen terhadap inflasi nasional. "Kita melihat hampir separuh tekanan inflasi berasal dari kebutuhan dasar masyarakat. Ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa medan utama perjuangan ekonomi kita saat ini ada pada stabilitas pangan," jelasnya.

Azis mencatat kenaikan signifikan pada sejumlah komoditas pangan pada Mei 2026, di antaranya cabai merah (25,64 persen), tomat (9,82 persen), bawang merah (6,65 persen), dan minyak goreng (2,87 persen). Lonjakan harga ini, menurutnya, tidak dapat disandarkan semata-mata pada nilai tukar rupiah. Faktor lain yang lebih dominan meliputi persoalan distribusi, kondisi cuaca, rantai pasok yang panjang, tingginya biaya logistik, hingga ketidakseimbangan produksi antarwilayah. Oleh karena itu, perhatian utama harus diarahkan pada penyelesaian akar masalah tersebut demi menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan kesejahteraan masyarakat.

Also Read

Tinggalkan komentar