Ekonomi 5,61%? CELIOS Ungkap 4 Anomali Data Pertumbuhan

Budi Santoso

Ekonomi 5,61%? CELIOS Ungkap 4 Anomali Data Pertumbuhan

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menyoroti angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen. Angka ini diklaim tertinggi sejak 2012 dan melampaui pencapaian dua periode pemerintahan Jokowi. Namun, Huda melihat adanya anomali dalam data yang disajikan oleh pemerintah.

Anomali pertama terletak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melonjak menjadi 5,52 persen pada kuartal I 2026, jauh lebih tinggi dari 4,96 persen pada kuartal I 2025. Padahal, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia pada Maret 2026 justru mengalami penurunan dari bulan sebelumnya. Huda menyatakan bahwa IKK biasanya mencerminkan pergerakan konsumsi, namun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hal yang berbeda. Lebih lanjut, konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya justru melambat dibandingkan kuartal I 2025, padahal momen Ramadhan dan Lebaran seharusnya mendongkraknya.

Anomali kedua terdapat pada konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh 6,91 persen pada kuartal I 2026, lebih tinggi dari kuartal-kuartal sebelumnya di tahun 2025. Namun, Huda mencatat bahwa pertumbuhan jasa transportasi dan pergudangan justru melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serupa terjadi pada jasa informasi dan komunikasi.

Anomali ketiga ditemukan pada pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Pertumbuhan tinggi justru disumbang oleh subsektor kendaraan, seperti mesin, yang mencapai 12,39 persen. Ironisnya, pertumbuhan industri alat angkutan justru terkontraksi minus 5,02 persen. Huda menduga angka PMTB kendaraan ini disumbang oleh impor kendaraan untuk keperluan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang berarti impor kendaraan justru menjustifikasi pertumbuhan PMTB kendaraan yang tinggi, sementara industrinya melemah.

Baca Juga :  Taspen Borong Penghargaan Pemasaran Digital dan Kepemimpinan Perempuan

Terakhir, anomali keempat adalah pada industri pengolahan yang mengalami tekanan dan melambat di kuartal I 2026, hanya tumbuh 5,04 persen. Hal ini sejalan dengan penurunan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026. Industri tembakau, karet dan plastik, serta otomotif mengalami kontraksi, sementara industri makanan dan minuman tumbuh tinggi 7,04 persen, kemungkinan besar akibat penyerapan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Huda mempertanyakan kontribusi UMKM jika industri makanan dan minuman yang mendapat manfaat besar dari program MBG. Ia menekankan bahwa anomali pertumbuhan industri yang melambat namun pertumbuhan ekonomi justru sangat tinggi ini patut dipertanyakan, mengingat kontribusi sektor industri pengolahan yang mencapai 19 persen terhadap ekonomi.

Also Read

Tinggalkan komentar