
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian mengkhawatirkan, berpotensi membebani dompet masyarakat Indonesia. Hingga kini, rupiah menunjukkan kelemahan signifikan, bahkan menembus rekor terendah sepanjang masa di kisaran Rp 17.600, menyulitkan pemulihan ke kondisi normal. Ekonom memprediksi inflasi impor akan tak terhindarkan, mendongkrak harga berbagai produk yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Menurut Nailul Huda, Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), pelemahan rupiah akan memicu kenaikan harga barang impor, baik bahan baku, bahan penolong, maupun barang konsumsi. "Imported inflation akan terjadi," ujarnya, memprediksi kenaikan harga dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan ke depan. Contoh nyata telah terlihat pada harga plastik, yang harganya melonjak akibat kelangkaan bahan baku, tingginya biaya distribusi, dan menguatnya harga dari eksportir akibat nilai tukar rupiah yang lemah. Dampaknya meluas, sebab banyak barang turunan plastik, seperti minyak goreng kemasan, juga akan mengalami kenaikan harga. Huda menegaskan, dampak pelemahan nilai tukar ini bersifat menyeluruh, merasuk ke semua lapisan masyarakat, dari pedagang gorengan hingga para pengusaha.
Senada, Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyoroti ketergantungan Indonesia pada impor komoditas penting seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, dan bahan baku industri. Pelemahan rupiah secara otomatis akan menaikkan biaya masuk barang-barang tersebut. "Dampaknya pelan-pelan terasa di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga," ungkap Rendy.
Kelas menengah diperkirakan akan merasakan tekanan terberat. Konsumsi barang-barang non-esensial yang lebih tinggi di kalangan kelas menengah akan membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan harga yang pesat. Barang-barang seperti gadget, elektronik, kosmetik impor, langganan layanan digital, bahkan biaya pendidikan di luar negeri, diprediksi akan mengalami lonjakan harga. Hal ini memaksa masyarakat untuk mempersempit ruang belanja, memprioritaskan kebutuhan pokok saja. Akibatnya, banyak orang akan merasa penghasilan yang diterima tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup seperti sebelumnya.
Lebih lanjut, pelemahan rupiah juga berpotensi mengerek biaya transportasi. Harga tiket pesawat, misalnya, diperkirakan akan naik karena sebagian besar komponen biaya maskapai, seperti avtur, sewa pesawat, suku cadang, dan perawatan mesin, dibayar dalam dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai pun ikut melonjak.
Meskipun demikian, ada segelintir pihak yang berpotensi diuntungkan. Pekerja migran yang menerima gaji dalam mata uang asing akan memperoleh nominal yang lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Eksportir komoditas, mulai dari kelapa sawit, kopi, hingga hasil perikanan, juga akan merasakan manfaat karena pendapatan mereka berbasis dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasionalnya dalam rupiah. Namun, Rendy menekankan bahwa secara umum, dampak negatif pelemahan rupiah terhadap mayoritas masyarakat Indonesia jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. "Rupiah yang terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya," tegasnya.











