Pertamina & BGN Olah Minyak Jelantah Jadi Avtur Ramah Lingkungan

Budi Santoso

Pertamina & BGN Olah Minyak Jelantah Jadi Avtur Ramah Lingkungan

PT Pertamina (Persero) menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan ekosistem energi berkelanjutan berbasis limbah domestik. Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bahan baku pembuatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya ganda untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui prinsip ekonomi sirkular.

Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program gizi terbesar di dunia yang menjangkau 61,99 juta penerima manfaat. Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar penyediaan makanan bergizi, melainkan investasi krusial bagi masa depan bangsa, pembangunan generasi unggul, penguatan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.

Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina, menegaskan bahwa sinergi antara Pertamina dan BGN melampaui sekadar kerja sama biasa. Ini adalah pertemuan dua mandat strategis bangsa, yaitu pangan dan energi. Sesuai dengan Misi ke-2 Asta Cita, yang mendorong pembangunan kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana kedua sektor tersebut dapat saling menguatkan dalam satu ekosistem terintegrasi. Simon menambahkan bahwa minyak jelantah, yang seringkali dianggap sebagai limbah dan sumber pencemaran lingkungan, memiliki potensi besar. Dengan memanfaatkan puluhan ribu SPPG di seluruh Indonesia, akan tercipta ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah yang sebelumnya terabaikan. Perspektif ini diubah, menjadikan limbah sebagai sumber daya dan masalah sebagai solusi, yang merupakan esensi dari ekonomi sirkular, di mana Pertamina memegang peran penting.

Baca Juga :  Rupiah Menguat, Cadangan Devisa RI Turun di April 2026

Implementasi program pengumpulan minyak jelantah akan dilaksanakan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpul UCollect. Minyak jelantah yang terkumpul akan dimanfaatkan sebagai bahan baku (feedstock) untuk produksi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan biogasoline.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa kerja sama ini adalah bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk memperkuat bisnis rendah karbon dan menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah domestik. Kolaborasi strategis ini merupakan langkah Pertamina dalam memperkuat portofolio bisnis rendah karbon melalui pemanfaatan limbah domestik sebagai sumber energi masa depan. UCO atau minyak jelantah dinilai sebagai bahan baku paling efisien untuk menghasilkan SAF dan HVO karena memiliki profil emisi siklus hidup yang rendah. Kebutuhan Pertamina terhadap UCO sangat jelas, yaitu demi keberlanjutan bisnis dan kepatuhan terhadap standar dekarbonisasi global.

Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1% hingga 5% pada tahun 2030, sesuai dengan amanat Pemerintah melalui Kepmen ESDM No. 113/2026. Program ini juga secara simultan mendukung tiga agenda strategis nasional: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Diharapkan, kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan yang berkelanjutan, bersumber dari daya domestik.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana di Grha Pertamina, Jakarta, pada Kamis (7/5). Acara tersebut turut dihadiri oleh Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.

Baca Juga :  Tarif Impor Trump Dinyatakan Ilegal oleh Pengadilan AS

Also Read

Tinggalkan komentar