Kelas Menengah Beralih ke Mobil Bekas, EV Diminati Segmen Atas

Budi Santoso

Kelas Menengah Beralih ke Mobil Bekas, EV Diminati Segmen Atas

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya tercermin dalam pemulihan daya beli masyarakat yang merata. Fenomena menarik terjadi di sektor otomotif, di mana peningkatan penjualan kendaraan listrik (EV) justru beriringan dengan pergeseran preferensi konsumen kelas menengah yang kini lebih memilih mobil bekas akibat tekanan ekonomi.

Adjie Harisandi, Head of Industry & Regional Research Permata Bank, mengamati adanya perubahan pola konsumsi masyarakat di sektor otomotif. "Segmen menengah atas kini mulai agresif membeli kendaraan listrik," ujar Adjie. Ia menambahkan bahwa pembeli kendaraan listrik umumnya sudah memiliki kendaraan konvensional sebelumnya, menunjukkan bahwa adopsi EV masih didominasi oleh mereka yang memiliki daya beli lebih kuat dan telah mapan secara finansial.

Sementara itu, kelompok kelas menengah ke bawah justru menunjukkan tren sebaliknya. Tekanan pengeluaran yang meningkat dan pelemahan daya beli membuat mereka menahan diri untuk membeli mobil baru. "Yang menjadi catatan adalah meningkatnya penjualan kendaraan listrik secara signifikan. Kalau kita lihat struktur konsumennya, pembeli kendaraan listrik umumnya sudah memiliki kendaraan konvensional sebelumnya," jelas Adjie dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I tahun 2026, Selasa (12/5/2026).

Kondisi ini tercermin dalam fenomena downtrading, di mana konsumen yang sebelumnya berpotensi membeli mobil baru kini beralih ke mobil bekas dengan harga yang lebih terjangkau. Adjie menyoroti bahwa segmen menengah bawah dan entry level sangat merasakan tekanan daya beli ini, terutama terlihat pada penjualan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) dan mobil segmen awal dengan kisaran harga Rp100 juta hingga Rp300 juta.

Baca Juga :  Driver Ojol Sambut Potongan Aplikasi 8%, Siap Kawal Perpres Baru

Perbedaan mencolok antara segmen konsumen ini mengindikasikan adanya ketidakmerataan pemulihan ekonomi. Meskipun pasar EV menunjukkan pertumbuhan yang positif, hal ini lebih banyak didorong oleh kemampuan finansial segmen atas yang mampu mengalokasikan dana lebih besar untuk teknologi baru. Di sisi lain, mayoritas masyarakat yang masih berjuang dengan biaya hidup dasar dan inflasi cenderung mengambil keputusan pembelian yang lebih hati-hati dan ekonomis, seperti memilih kendaraan roda dua bekas atau mobil bekas yang lebih tua namun masih layak pakai.

Pergeseran ini juga dapat memengaruhi strategi produsen otomotif di masa mendatang. Fokus pada segmen premium untuk EV mungkin akan terus berlanjut, sementara produsen yang menyasar segmen menengah bawah perlu mempertimbangkan strategi yang lebih adaptif terhadap tantangan daya beli. Edukasi mengenai manfaat jangka panjang EV, termasuk potensi penghematan biaya operasional, mungkin perlu digalakkan lebih intensif untuk menarik minat segmen yang lebih luas, namun hal ini perlu diimbangi dengan penawaran produk yang lebih terjangkau di masa depan.

Ilustrasi menunjukkan petugas PLN yang memberikan edukasi menu EV di aplikasi PLN Mobile kepada pengguna kendaraan listrik di SPKLU. Hal ini mengindikasikan upaya untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik, namun efektivitasnya dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat masih perlu dievaluasi, terutama bagi mereka yang saat ini fokus pada kebutuhan pokok dan belum mampu berinvestasi pada kendaraan baru, termasuk EV.

Baca Juga :  Rupiah Melemah, Pemerintah Siapkan Kebijakan Penguatan Devisa

Also Read

Tinggalkan komentar