
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan, bahkan menembus level Rp17.706 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri.
Menurut Airlangga, faktor global memainkan peran yang signifikan dalam menekan nilai tukar rupiah. Ia mengamati bahwa permintaan dolar AS meningkat tajam selama periode musim ibadah haji. Selain itu, banyak perusahaan juga sedang dalam proses melakukan pembayaran dividen setelah musim pelaporan keuangan kuartalan berakhir. Fenomena ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada rupiah.
Lebih lanjut, Airlangga menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap nilai tukar rupiah. Peningkatan harga komoditas energi ini turut menambah beban pada permintaan dolar dan memperkuat faktor eksternal yang menekan mata uang nasional. "Jadi memang permintaannya sedang tinggi. Ditambah harga minyak masih naik, sehingga faktor eksternalnya sangat kuat," ujar Airlangga.
Meskipun mengakui pelemahan rupiah, Airlangga melihat sisi positif dari kondisi ini bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Ia berpendapat bahwa pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi para eksportir, karena mereka berpotensi memperoleh nilai tukar rupiah yang lebih besar dari hasil penjualan mereka. "Kalau yang berorientasi ekspor, pengusaha sebetulnya bisa mendapatkan daya saing lebih tinggi dan juga memperoleh rupiah lebih banyak," jelasnya.
Menanggapi situasi ini, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan pasar dengan cermat untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi. Pemerintah juga tengah merancang serangkaian kebijakan strategis untuk memperkuat cadangan devisa negara dan mengoptimalkan potensi komoditas ekspor nasional. Meskipun rincian spesifik mengenai kebijakan ini belum diungkapkan, Airlangga menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan difokuskan pada penguatan fundamental ekonomi Indonesia. "Kebijakan itu nanti mendorong penguatan devisa kita dan optimalisasi komoditas-komoditas yang bisa didorong menjadi ekspor," tuturnya.
Pemerintah optimis bahwa kondisi nilai tukar rupiah dapat menunjukkan perbaikan pada semester kedua tahun ini. "Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi," harap Airlangga. Upaya koordinasi antara pemerintah dan BI, serta penerapan kebijakan yang tepat sasaran, diharapkan dapat memulihkan kepercayaan pasar dan menstabilkan nilai tukar rupiah.











