
Teknisi memperbaiki pesawat Citilink dan Garuda di hanggar GMF AeroAsia, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (15/04/2026). Industri penerbangan nasional menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing di tengah tekanan global. Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menekankan perlunya transformasi menyeluruh yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mencakup seluruh rantai nilai aviasi. Agenda ini akan menjadi topik utama dalam Indonesia Aero Summit (IAS) 2026 yang diselenggarakan pada 8-9 Juli di Jakarta.
Denon menjelaskan bahwa melalui pendekatan ekosistem, seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, operator bandara, maskapai, industri manufaktur, penyedia energi, serta institusi riset dan lembaga pendidikan, didorong untuk berkolaborasi dalam menciptakan solusi inovatif. Transformasi yang dimaksud mencakup pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), perdagangan karbon, modernisasi infrastruktur bandara, serta peningkatan efisiensi manajemen lalu lintas udara. Pemanfaatan teknologi digital juga dinilai krusial untuk meningkatkan kinerja operasional.
"Penerbangan yang berkelanjutan harus mampu meningkatkan konektivitas nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta tetap memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja dan masyarakat sekitar," ujar Denon. INACA meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan dampak sosial ekonomi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi sektor penerbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
IAS 2026 akan mengusung tema "Sustainable Aviation Ecosystem" yang menekankan integrasi sistem penerbangan yang adaptif dan berkelanjutan. Forum ini akan melibatkan regulator, operator, hingga pelaku industri global. Melalui forum tersebut, INACA menargetkan lahirnya rekomendasi strategis yang dapat memperkuat daya saing industri aviasi Indonesia di tingkat internasional, sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Denon menyoroti pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan masa depan. Pengembangan SAF, misalnya, tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang bisnis baru bagi industri dalam negeri. Program sertifikasi dan lisensi untuk produksi SAF dapat mendorong investasi dan transfer teknologi. Kolaborasi antara maskapai dan produsen SAF menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bahan bakar ini.
Selain itu, modernisasi infrastruktur bandara menjadi prioritas. Peningkatan kapasitas bandara, adopsi teknologi pintar untuk manajemen penumpang dan kargo, serta pengembangan bandara hijau akan menjadi fokus. Efisiensi manajemen lalu lintas udara melalui penggunaan teknologi canggih seperti AI dan big data akan mengurangi waktu tempuh, konsumsi bahan bakar, dan emisi.
Denon juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang kompeten. Pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi para teknisi, pilot, dan staf pendukung lainnya akan memastikan operasional penerbangan yang aman dan efisien. Kerjasama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan akan menjadi strategi utama dalam hal ini.
Dengan adanya IAS 2026, INACA berharap dapat menciptakan sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan untuk mewujudkan industri penerbangan Indonesia yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Transformasi ini bukan sekadar keharusan, melainkan sebuah peluang besar untuk membawa industri aviasi Indonesia ke level global yang lebih tinggi.











