
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengadakan pertemuan penting dengan sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, ini difokuskan pada pembahasan strategis mengenai pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali.
Usai pertemuan, awak media berupaya mengonfirmasi Gubernur BI terkait isu yang tengah hangat, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menembus angka Rp 17.400 per dolar AS. Namun, Perry Warjiyo memilih untuk tidak memberikan komentar langsung, ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, menunjukkan keengganannya untuk menanggapi pertanyaan mengenai depresiasi rupiah. Ia berulang kali hanya mengucapkan "terima kasih" saat dihujani pertanyaan, hingga akhirnya memasuki mobil dinasnya dan meninggalkan lokasi.
Situasi pelemahan rupiah ini memang menjadi sorotan. Bank Indonesia sendiri telah memberikan penjelasan terkait pergerakan mata uang Garuda. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara lain di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Ia membandingkan pelemahan rupiah dengan mata uang negara berkembang lainnya, seperti Philippine Peso yang turun 6,58%, Thailand Baht 5,04%, India Rupee 4,32%, Chile Peso 4,24%, dan Korea Won 2,29%. Rupiah sendiri tercatat melemah 3,65% sejak awal konflik di Timur Tengah.
Erwin menegaskan bahwa BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar keuangan guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing. Strategi yang akan dilakukan meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah-langkah ini akan dijalankan secara konsisten untuk menahan tekanan global yang terus berlanjut terhadap nilai tukar rupiah.











