Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak WTI Tembus US$ 100 Per Barel

Budi Santoso

Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak WTI Tembus US$ 100 Per Barel

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (28/4) menyusul meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan tajam ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal pembukaan Selat Hormuz yang diajukan oleh pihak Teheran. Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka melonjak lebih dari 3 persen hingga menyentuh level US$ 100,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turut terkerek naik 3,2 persen ke posisi US$ 111,67 per barel.

Ketegangan ini bermula saat Iran menawarkan skema kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dengan syarat Amerika Serikat harus mencabut blokade angkatan lautnya di kawasan tersebut. Dalam proposalnya, Teheran juga mengusulkan agar pembahasan mendalam mengenai program nuklir mereka ditangguhkan untuk sementara waktu. Namun, Presiden Trump dalam diskusinya bersama para penasihat keamanan nasional menilai tawaran tersebut tidak memadai dan tidak memberikan jaminan keamanan bagi navigasi internasional di masa depan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mempertegas sikap skeptis Washington terhadap niat Iran. Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang sangat vital bagi perdagangan dunia, sehingga tidak boleh ada satu negara pun yang mengklaim kendali penuh atas wilayah tersebut. Menurutnya, AS tidak akan mentoleransi upaya Iran untuk menormalisasi sistem di mana mereka bisa menentukan siapa yang berhak melintas atau menetapkan biaya masuk bagi kapal tanker.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Soroti Minimnya IPO di Tengah Ketidakpastian Global

Secara fundamental, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global yang menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak mentah, bahan bakar, dan produk petrokimia setiap harinya. Penutupan atau gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, memproyeksikan bahwa proses pemulihan pasar akan memakan waktu yang cukup lama, berkisar antara empat hingga enam bulan, meskipun konflik berakhir hari ini. Hal ini disebabkan oleh kerumitan teknis seperti pembersihan ranjau laut, penguraian kemacetan kapal tanker, hingga aktivasi kembali fasilitas penyulingan.

Di sisi lain, investor juga tengah mencermati dinamika internal OPEC menyusul kabar rencana Uni Emirat Arab untuk meninggalkan organisasi tersebut. Jika negosiasi antara AS dan Iran tetap menemui jalan buntu, harga minyak diprediksi akan terus bertahan di level tinggi. Tanpa adanya kesepakatan baru yang konkret, volatilitas pasar diperkirakan akan semakin liar seiring dengan menipisnya cadangan minyak operasional di tingkat global. Analis memperingatkan bahwa selama konflik berlangsung, premi risiko akan terus membayangi harga komoditas energi ini.

Also Read

Tinggalkan komentar