
Raksasa kopi global, Starbucks, dikabarkan telah mengambil langkah drastis dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada divisi teknologinya di Amerika Serikat pada akhir April 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar perusahaan untuk melakukan restrukturisasi internal guna meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pengambilan keputusan di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif. Meskipun manajemen pusat belum memberikan rincian jumlah pasti karyawan yang terdampak, memo internal perusahaan menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk mempertajam fokus pada prioritas strategis yang paling krusial bagi masa depan bisnis mereka.
Restrukturisasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah menjadi rumor internal yang cukup lama di kalangan pegawai. Langkah pemangkasan ini juga berjalan beriringan dengan rencana relokasi besar-besaran, di mana Starbucks memindahkan pusat operasional teknologi mereka dari Seattle ke kantor baru di Nashville. Fasilitas di Nashville tersebut diproyeksikan akan menjadi pusat inovasi yang mampu menampung sekitar 2.000 pekerja. Perubahan ini menandakan pergeseran geografis sekaligus upaya konsolidasi talenta untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih ramping dan terintegrasi.
Kehadiran Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer (CTO) sejak Desember lalu membawa pengaruh besar dalam arah kebijakan teknologi perusahaan. Dengan pengalaman hampir dua dekade di Amazon, Varadarajan diharapkan mampu mentransformasi infrastruktur digital Starbucks agar lebih lincah dan inovatif. Di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol, Starbucks sedang berupaya keras memulihkan kinerja keuangan yang sempat mengalami tekanan sejak tahun 2024. Perusahaan menghadapi tantangan serius berupa penurunan volume penjualan dan laba operasional di berbagai pasar utama.
Sebagai bagian dari rencana "Triple Shot Reinvention", Starbucks berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan di gerai fisik melalui investasi teknologi yang masif. Namun, ambisi tersebut harus dibayar dengan program efisiensi biaya yang sangat ketat. Selain PHK di divisi teknologi, Starbucks sebelumnya telah menutup ratusan gerai yang dinilai tidak produktif di wilayah Amerika Serikat dan Kanada. Data menunjukkan bahwa perusahaan juga telah memberhentikan hampir 1.000 pekerja di wilayah Seattle dan Kent, dengan perkiraan pemangkasan tambahan terhadap 1.100 karyawan lainnya dalam waktu dekat. Transformasi ini menunjukkan bahwa Starbucks kini lebih memprioritaskan optimalisasi sistem digital dan efisiensi rantai pasok untuk menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perusahaan berharap struktur organisasi yang baru akan membuat mereka lebih responsif terhadap perubahan perilaku konsumen yang kini semakin bergantung pada layanan aplikasi digital.











