
Maskapai penerbangan Amerika Serikat, Spirit Airlines, mengumumkan penghentian operasional secara total akibat kondisi kebangkrutan yang mendalam. Keputusan drastis ini berdampak langsung pada seluruh penerbangan yang dibatalkan dan penghentian layanan pelanggan. Dalam pernyataannya yang dirilis di situs resmi, maskapai tersebut mengungkapkan rasa bangga atas kontribusinya dalam industri penerbangan berbiaya rendah selama 34 tahun terakhir, namun kini harus menghadapi kenyataan pahit.
Spirit Airlines memastikan bahwa seluruh pelanggan yang terdampak akan menerima pengembalian dana penuh. Namun, maskapai tersebut menegaskan bahwa tidak ada opsi untuk penjadwalan ulang atau penggantian penerbangan. Situasi kebangkrutan ini dipicu oleh kegagalan perusahaan dalam memperoleh bantuan dana dari pemerintah, diperparah oleh lonjakan harga bahan bakar jet yang disebabkan oleh eskalasi konflik di Iran.
Penghentian operasi ini akan berdampak luas bagi sekitar 17.000 karyawan yang kini menghadapi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Spirit Airlines telah berjuang secara finansial sejak merebaknya pandemi COVID-19, terbebani oleh kenaikan biaya operasional yang signifikan dan akumulasi utang yang terus membengkak.
Data menunjukkan bahwa sejak awal tahun 2020, Spirit Airlines telah mencatatkan kerugian lebih dari US$ 2,5 miliar. Upaya untuk mendapatkan perlindungan kebangkrutan melalui Bab 11 pada November 2024 menjadi salah satu indikator awal kesulitan finansial yang dihadapi maskapai ini. Situasi semakin memburuk ketika pada Agustus 2025, Spirit Airlines kembali mengajukan perlindungan kebangkrutan dengan total utang mencapai US$ 8,1 miliar, sementara asetnya tercatat sebesar US$ 8,6 miliar.
Posisi keuangan yang rapuh ini akhirnya memaksa maskapai penerbangan murah tersebut untuk mengambil langkah ekstrem dengan menghentikan seluruh operasinya. Keputusan ini tidak hanya mengakhiri era Spirit Airlines di industri penerbangan, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian besar bagi ribuan karyawannya yang bergantung pada pekerjaan mereka. Dampak lebih luas dari kebangkrutan ini juga diperkirakan akan dirasakan oleh para pemasok dan mitra bisnis maskapai tersebut.











