Rupiah Tertekan di Rp 17.200, Pakar Soroti Klaim Nilai Tukar Wajar

Budi Santoso

Rupiah Tertekan di Rp 17.200, Pakar Soroti Klaim Nilai Tukar Wajar

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan dengan bertahan di atas level psikologis Rp 17.200 per dolar AS. Berdasarkan data penutupan pasar pada Selasa (28/4/2026), mata uang Garuda terkoreksi sebesar 32 poin atau setara 0,19 persen, yang membawanya ke posisi Rp 17.243 per dolar AS. Angka ini mencerminkan tekanan yang belum mereda dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.211 per dolar AS. Meskipun secara teknis terus melemah, otoritas moneter dan pemerintah kerap menyuarakan bahwa nilai rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau dianggap sudah terlalu murah (undervalued).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan kritik tajam terhadap penggunaan narasi "nilai tukar wajar" yang terus berulang oleh Bank Indonesia maupun pemerintah. Menurutnya, pernyataan bahwa rupiah undervalued seolah telah menjadi templat komunikasi resmi dalam berbagai situasi ekonomi, mulai dari gejolak global, masa pandemi, hingga kondisi pasar yang relatif stabil. Ibrahim mempertanyakan relevansi narasi tersebut mengingat secara historis rupiah terus mengalami depresiasi jangka panjang yang signifikan. Jika merujuk pada data tahun 2014, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp 12.000 per dolar AS, namun kini telah merosot tajam hingga menyentuh level Rp 17.000-an.

Ketimpangan antara narasi pemerintah dengan realitas pasar ini menuntut evaluasi mendalam terhadap definisi nilai wajar rupiah. Di satu sisi, indikator makroekonomi domestik memang terlihat cukup solid. Inflasi nasional masih terkendali dalam sasaran target, pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di angka yang stabil, dan stabilitas sistem keuangan secara umum masih kokoh. Namun, Ibrahim menyoroti adanya kerentanan struktural yang sering kali tertutup oleh angka-angka makro tersebut. Salah satu masalah utamanya adalah cadangan devisa yang sebagian besar masih ditopang oleh penarikan utang luar negeri, bukan murni dari surplus perdagangan yang berkelanjutan.

Baca Juga :  IHSG Melemah ke 7.106 Saat Asing Tarik Modal, Saham DKFT Tebar Dividen

Lebih lanjut, dinamika aliran modal asing juga menjadi catatan krusial bagi ketahanan nilai tukar. Meskipun investasi asing masuk ke Indonesia, aliran keluar dalam bentuk pembayaran dividen dan bunga utang tetap tinggi, yang pada akhirnya memberikan tekanan pada neraca pembayaran. Fenomena deindustrialisasi dini juga dianggap memperlemah struktur ekonomi nasional, sehingga ketergantungan pada aliran modal asing jangka pendek atau hot money semakin tinggi. Kondisi ini membuat rupiah sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Ibrahim menegaskan bahwa kepercayaan pasar tidak bisa hanya dibangun lewat retorika untuk meredam kepanikan, melainkan harus dibuktikan dengan perbaikan fundamental ekonomi yang nyata agar rupiah memiliki daya tahan yang lebih kuat.

Also Read

Tinggalkan komentar