
Jakarta – Mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan Selasa, 21 Mei 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok ke level Rp 17.502 per dolar AS. Posisi ini menandai pelemahan kedua terparah bagi rupiah di bulan Mei ini, setelah sebelumnya pada Senin, 6 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah Indonesia di angka Rp 17.512 per dolar AS.
Pelemahan rupiah pada Selasa pagi ini sebenarnya telah diprediksi oleh para pengamat pasar uang. Setidaknya ada dua faktor utama yang diperkirakan membebani rupiah. Pertama adalah ketegangan global yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang terus membayangi sentimen pasar. Kedua, para pelaku pasar tengah menanti pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pengumuman ini sangat dinantikan untuk melihat respons MSCI terhadap perubahan kebijakan yang telah dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama terkait aturan kepemilikan saham di bursa.
Menurut Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, meredupnya harapan akan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah. "Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi," ungkap Lukman di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik ini secara langsung mempengaruhi aliran investasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain sentimen eksternal, pasar domestik juga tengah menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia untuk periode Maret 2026 yang dijadwalkan akan keluar pada siang hari. Lukman memperkirakan data penjualan ritel kali ini akan menunjukkan sedikit peningkatan, yaitu sekitar 6,8 persen, dibandingkan dengan angka 6,5 persen pada bulan Februari. Meskipun diprediksi positif, tingkat kenaikan tersebut mungkin belum cukup untuk memberikan dorongan signifikan bagi rupiah.
Lebih lanjut, Lukman memprediksi bahwa pengumuman dari MSCI tidak akan memberikan sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan justru berpotensi menekan pergerakan rupiah lebih lanjut. "Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di-downgrade," jelasnya. Keputusan MSCI ini dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia, yang pada gilirannya akan berdampak pada permintaan dolar AS.
Menyikapi tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut, pemerintah tampak berupaya keras mengatasi situasi ini sejak pekan lalu. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah melakukan pertemuan darurat di Istana bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa, dan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas langkah-langkah strategis dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa, usai pertemuan, menyatakan bahwa faktor global menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Ia juga mengklaim bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini dalam keadaan baik, meskipun sempat menjadi sorotan lembaga pemeringkat internasional. Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada awal bulan sempat menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued (ternilai rendah) dan Bank Indonesia terus berupaya melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar. Namun, data pergerakan rupiah menunjukkan bahwa upaya stabilisasi tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diinginkan.
Situasi ini menyoroti tantangan ganda yang dihadapi Indonesia, yaitu ketidakpastian geopolitik global dan dinamika pasar keuangan internasional, yang perlu diatasi dengan kebijakan ekonomi yang terukur dan konsisten.











