Rupiah Tembus Rp 17.300, UEA Keluar OPEC, Perang Iran Memanas

Budi Santoso

Rupiah Tembus Rp 17.300, UEA Keluar OPEC, Perang Iran Memanas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan pelemahannya pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026), menembus level psikologis lebih dari Rp 17.300 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang signifikan, terutama pengumuman keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang akan berlaku efektif mulai Jumat, 1 Mei 2026.

Mengutip data dari Bloomberg, rupiah tercatat terkoreksi sebesar 83 poin atau 0,48 persen, ditutup pada posisi Rp 17.326 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.243 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen pasar global saat ini sangat dipengaruhi oleh keputusan UEA untuk meninggalkan OPEC. "Keluarnya UEA merupakan pukulan besar bagi kelompok produsen minyak di tengah gangguan yang terus-menerus akibat perang Iran," ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Rabu (29/4/2026). Ia menambahkan bahwa UEA sendiri menyatakan langkah tersebut diambil untuk lebih memfokuskan diri pada "kepentingan nasionalnya".

Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti dampak geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Instruksi dari Presiden AS Donald Trump kepada para pembantunya untuk bersiap menghadapi perpanjangan blokade ini, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal mengutip pejabat AS, mengindikasikan upaya AS untuk terus menekan ekonomi dan ekspor minyak Iran dengan mencegah aktivitas pengiriman dari dan ke pelabuhan-pelabuhannya. Kebijakan ini berpotensi memperpanjang gangguan pasokan minyak dari salah satu wilayah penghasil minyak utama di dunia.

Baca Juga :  Danantara Jadi BUMN Eksportir SDA Strategis Pekan Depan

Meskipun ada upaya gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, situasi geopolitik di kawasan tersebut tetap tegang. Kedua belah pihak masih berupaya mengakhiri pertempuran secara formal. Iran sendiri dilaporkan telah menutup arus pengiriman melalui Selat Hormuz, sebuah jalur krusial yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global. Sementara itu, AS terus melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memperparah ketidakpastian pasokan energi global.

Ketegangan ini semakin kompleks dengan tuntutan AS yang mendesak diakhirinya program yang diklaim sebagai program senjata nuklir Iran. Di sisi lain, Iran menuntut berbagai hal, termasuk bentuk ganti rugi atas babak pertempuran terbaru, pelonggaran sanksi ekonomi yang membelenggu ekonominya, serta beberapa bentuk kendali atas Selat Hormuz.

Dalam konteks domestik, pasar keuangan Indonesia juga tengah menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan akan dirilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Bank sentral AS ini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dana federal di kisaran 3,5% hingga 3,75 persen, yang akan menandai pertemuan ketiga berturut-turut tanpa adanya perubahan kebijakan. Pertemuan ini kemungkinan akan menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, sebelum digantikan oleh Kevin Warsh. Para pelaku pasar akan mencermati konferensi pers The Fed untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai interpretasi para pembuat kebijakan terhadap dampak kenaikan biaya energi dan potensi perubahan pandangan jangka panjang mengenai arah suku bunga.

Baca Juga :  Permenaker Baru Lindungi Pekerja Alih Daya, Batasi Jenis Pekerjaan

Sumber: Antara

Also Read

Tinggalkan komentar