
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menunjukkan penguatan signifikan, naik 37 poin atau 0,21 persen, menjadi Rp 17.387 per dolar AS. Angka ini merupakan perbaikan dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.424 per dolar AS. Muhammad Amru Syifa, dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kokoh. Ia mengutip pernyataan Gubernur Perry Warjiyo yang menyebutkan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan berpotensi untuk terus menguat. Potensi penguatan ini didukung oleh berbagai indikator positif, termasuk pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sekitar 5,61 persen, tingkat inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit yang sehat, serta cadangan devisa yang kuat.
Amru menambahkan bahwa tekanan yang dialami rupiah dalam beberapa hari terakhir bersifat sementara. Tekanan tersebut terutama disebabkan oleh tingginya permintaan dolar AS untuk keperluan impor, pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen oleh perusahaan asing, arus modal keluar, serta sikap kehati-hatian yang ditunjukkan oleh para investor. Meskipun demikian, Amru menekankan bahwa faktor domestik bukanlah sumber utama pelemahan rupiah, namun tetap memberikan kontribusi dalam memberikan tekanan pada mata uang nasional.
Di sisi lain, penguatan rupiah juga harus dibayangi oleh kekuatan dolar AS secara global. Hal ini dipicu oleh suku bunga global yang masih bertahan tinggi, kenaikan yield US Treasury yang mencapai sekitar 4,47 persen, serta ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global, yang cenderung membuat investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga turut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk keperluan impor energi. Kombinasi faktor-faktor global ini, menurut Amru, membuat mata uang dari negara-negara emerging markets, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan.
Sebagai indikator tambahan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada hari Rabu ini juga mencerminkan penguatan rupiah, bergerak ke level Rp 17.405 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di Rp 17.425 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya tren penguatan yang konsisten dalam pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode ini.











