
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami koreksi tajam, mendekati ambang batas psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh akumulasi tensi geopolitik global yang memanas, terutama di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta persoalan fiskal domestik yang belum terselesaikan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi pelemahan ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga pembukaan pasar pada hari Jumat.
Sentimen eksternal menjadi pemicu utama depresiasi rupiah. Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, pasca penyerangan AS terhadap instalasi di Iran, memicu kekhawatiran akan balasan dari pasukan Iran. Data intelijen Rusia bahkan mengindikasikan AS tengah mempersiapkan perang skala besar dengan Iran, bahkan berencana menggunakan milisi ISIS di Suriah. Pendaratan kapal-kapal canggih AS di Israel semakin memperkuat dugaan adanya persiapan serangan besar-besaran terhadap Iran, meski ada jeda gencatan senjata. Ibrahim mengingatkan potensi perang ini serupa dengan konflik Irak-AS beberapa dekade lalu, di mana kesepakatan justru menjadi kedok untuk serangan yang lebih masif. Konsekuensinya, ketegangan di Selat Hormuz diperkirakan akan melonjakkan harga minyak.
Konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina turut menambah ketegangan geopolitik global. Hancurnya ibu kota Ukraina, Kyiv, akibat serangan Rusia, serta permintaan bantuan misil canggih dari Ukraina kepada AS dan NATO, menciptakan ketidakpastian tersendiri. Ibrahim menyoroti kenaikan harga minyak mentah WTI ke level 96 dolar AS per barel, indikasi kuat tingginya tensi geopolitik yang juga mendorong kenaikan harga transportasi logistik dan inflasi global, terutama di AS dengan lonjakan harga gasoline.
Sentimen eksternal lainnya berasal dari kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Pernyataan Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, yang menekankan kekhawatiran inflasi lebih tinggi dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk, mengindikasikan potensi The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. Hal ini diperkirakan akan memicu penguatan dolar AS (gap up).
Di sisi domestik, meskipun tidak dirinci dalam artikel asli, Ibrahim mengindikasikan adanya "persoalan fiskal di domestik" yang turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Ketidakpastian terkait kebijakan fiskal dan kondisi ekonomi dalam negeri dapat menambah tekanan pada mata uang Garuda.
Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti dinamika politik di AS menjelang pemilihan sela. Masalah yang dihadapi Partai Republik akibat kepemimpinan Trump yang dinilai pro-perang, serta potensi pergeseran dukungan kantong-kantong suara ke Partai Demokrat, menciptakan ketegangan politik internal yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah merupakan cerminan dari kompleksitas tantangan global dan domestik. Gejolak geopolitik di berbagai belahan dunia, ditambah dengan potensi kenaikan suku bunga AS dan ketidakpastian domestik, menciptakan lingkungan yang menekan nilai tukar rupiah, mendorongnya menuju level yang mengkhawatirkan.











