
Siti Soleha, yang akrab disapa Lili, memutuskan berhenti dari pekerjaannya di lembaga keuangan mikro demi menjaga warung orang tuanya. Keputusan ini justru membuka pintu rezeki tak terduga. Ia berhasil menyulap warung kecil menjadi agen bank, bahkan kini memiliki tiga cabang Agen BRILink yang tersebar di dekat Pasar Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Awalnya, Lili melanjutkan usaha warung orang tuanya setelah resign dari PT Mitra Bisnis Keluarga (MBK). Di sela-sela kesibukannya, ia melihat peluang bisnis menjanjikan dari banyaknya transaksi pedagang pasar. Kakaknya, yang bekerja di Permodalan Nasional Madani (PNM), menawarinya untuk membuka Agen BRILink. "Kebetulan kakak saya kerja di PNM. Dulu tiap sore dia suka setoran lewat Agen BRILink, dari situ saya lihat ada potensi," ujar Lili.
Proses pendaftaran menjadi Agen BRILink dibantu oleh kakaknya, mengingat sejak 2022, layanan PNM tempat kakaknya bekerja berada dalam satu atap dengan kantor Unit BRI Ciampea melalui Sentra Layanan Ultra Mikro (SenyuM). "Biar mudah, jadi semuanya dia yang urus. Sekarang sudah berjalan 4 tahun," ungkap Lili.

Selama empat tahun, Lili telah membuka dua cabang Agen BRILink baru di Rancabungur dan Benteng, dengan nama Syafiq BRILink yang diambil dari nama keponakannya. Cabang di Benteng disewanya di dekat Pasar Baru Ciampea dengan biaya Rp 15 juta per tahun. "Kebetulan di Agen BRILink ini dekat pasar, jadi alhamdulillah rame. Dulu awalnya cuma di rumah aja di Pabuaran, tapi karena penghasilannya lebih besar di BRILink, jadi agennya saya perbesar dengan buka cabang di tempat lain," jelasnya.
Nasabah Lili didominasi oleh pengusaha sekitar pasar, seperti pedagang beras, pengepul rongsokan, hingga pengepul emas, yang kerap melakukan transaksi dalam jumlah besar. "Transaksinya di sini besar-besar, bisa sampai Rp 100 juta per hari," katanya. Lili menilai kecepatan dan kemudahan akses menjadi alasan utama mereka memilih agen ketimbang harus mengantre di kantor bank unit. "Karena di pasar penduduknya banyak dan semua orang kadang nggak sempat ke bank, jam bank juga juga terbatas kan. Jadi ke agen lebih cepat, nggak perlu tunggu lama," tambahnya.
Keuntungan yang didapat Lili dari Agen BRILink sangat menggiurkan. Dalam kondisi sepi, ia bisa mengantongi laba bersih dari biaya admin sekitar Rp 500 ribu per hari. Jika sedang ramai, hasil yang didapat bisa melonjak hingga Rp 1 juta per hari. "Alhamdulillah sih. Cuma emang beda-beda (di tiap cabangnya), itu tergantung kalau transfernya gede-gede, berarti nanti yang kita dapet kan lebih besar. Tapi kalau lagi sepi, ya sedikit lagi," ungkapnya. "Cuma emang, kalau di Benteng ini karena banyak langganan di sini. Alhamdulillah sih stabil, tiap hari ada aja. Rp 500 ribu dapet," imbuhnya.
Berkat kegigihannya, Lili mampu membantu ekonomi keluarganya dan telah membeli mobil bekas untuk mendukung operasional Agen BRILink. "Kemarin ada beli mobil, tapi second. Karena kebutuhan, dulu kan sering ambil uang setoran pakai motor malam-malam, rasanya takut. Sekarang jadi lebih tenang," ungkapnya.

Kiprah Lili bersama Agen BRILink ini membuat layanan keuangan semakin dekat dengan masyarakat. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa Agen BRILink adalah andalan BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat secara luas hingga ke pelosok desa. "Jaringan ini menghadirkan layanan yang mudah diakses oleh masyarakat dan mempercepat proses transaksi, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Peran tersebut menempatkan Agen BRILink sebagai penggerak ekonomi kerakyatan," ungkapnya.
Berdasarkan data BRI per akhir Maret 2026, jumlah Agen BRILink mencapai lebih dari 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa, memperkuat peran Agen BRILink sebagai layanan keuangan berbasis kemitraan tingkat desa.











