Reaktivasi Husein Sastranegara Ancaman Bagi Bandara Kertajati

Budi Santoso

Reaktivasi Husein Sastranegara Ancaman Bagi Bandara Kertajati

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyoroti potensi ancaman reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung bagi keberlangsungan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Keputusan untuk kembali membuka Husein Sastranegara bagi penerbangan komersial bermesin jet, setelah sebagian besar rutenya dipindahkan ke Kertajati, memicu perdebatan sengit. Djoko menilai kebijakan ini merupakan tarik-menarik antara pemulihan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan investasi infrastruktur jangka panjang.

Dampak dari rencana pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang. Pertama, ada dampak positif yang signifikan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi Bandung Raya. Bagi Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat, kembalinya operasional Husein Sastranegara dianggap sebagai angin segar yang sangat dinantikan oleh para pelaku usaha. Kemudahan akses ini memungkinkan wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Singapura, untuk langsung mendarat di pusat Kota Bandung tanpa perlu menempuh perjalanan darat tambahan yang memakan waktu. Hal ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan roda perekonomian lokal.

Namun, di sisi lain, Djoko menekankan adanya tantangan besar bagi keberlanjutan Bandara Kertajati. Dari perspektif kebijakan makro, hal ini dianggap sebagai dampak yang paling kontroversial. Bandara Kertajati dibangun dengan investasi triliunan rupiah, dengan tujuan utama menjadi gerbang udara utama Jawa Barat, menggantikan peran Bandara Husein Sastranegara. Jika maskapai jet kembali diizinkan beroperasi di Bandung, daya tarik Bandara Kertajati bagi warga Bandung Raya diprediksi akan merosot drastis.

Baca Juga :  Indonesia Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Kondisi ini berisiko membuat Bandara Kertajati kembali sepi penumpang, yang pada gilirannya akan menyulitkan pencapaian tingkat pengembalian modal (return on investment) dan menambah beban fiskal operasional. Meskipun Tol Cisumdawu telah memangkas waktu tempuh Bandung-Kertajati menjadi sekitar satu hingga satu setengah jam, dan Kereta Cepat Whoosh telah memperkuat konektivitas koridor Jakarta-Bandung, Djoko khawatir reaktivasi Husein Sastranegara akan mengacaukan pembagian pasar (market sharing) yang telah mulai terbentuk di antara infrastruktur-infrastruktur baru tersebut. Keputusan ini memerlukan kajian mendalam untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi lokal dengan keberlanjutan investasi strategis di sektor transportasi udara.

Also Read

Tinggalkan komentar