Indonesia Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Budi Santoso

Indonesia Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah kondisi geopolitik dan geoekonomi yang tidak menentu, Pemerintah Indonesia dan Pertamina menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi demi menjaga ketahanan energi nasional. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyoroti ketidakpastian global yang berdampak luas, namun menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh di kuartal pertama. "Dari kondisi geopolitik-geoekonomi yang tidak menentu, tumbuh ekonomi pada kuartal pertama," ujarnya saat pembukaan IPA Convex ke-50. Ia menambahkan bahwa banyak negara kini fokus pada perlindungan diri, termasuk dalam hal energi. Indonesia, atas arahan Presiden, terus mencari alternatif energi non-fosil untuk mengatasi potensi ketidak tercapaian lifting minyak.

Pertamina sejalan dengan komitmen ini, menegaskan kembali dedikasinya untuk memperkuat ketahanan energi di tengah kompleksitas industri energi global, berakhirnya era easy energy, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok. Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam sesi Global Executive Talk, menyatakan optimisme Pertamina dalam menghadapi tantangan ini. Penguatan kolaborasi strategis, akselerasi teknologi, dan optimalisasi produksi energi domestik menjadi kunci utama.

Oki Muraza menjelaskan bahwa era easy energy memang telah berlalu, namun Indonesia masih memiliki peluang besar. "Jadi, bagi para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan," katanya. Ia menyoroti risiko gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik, seperti di Selat Hormuz, yang dapat memicu volatilitas harga dan memengaruhi stabilitas pasokan.

Baca Juga :  Pendiri 7-Eleven Jepang Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun

Pertamina memegang peran strategis dalam memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi di seluruh Indonesia. Respons strategis tidak hanya bergantung pada diversifikasi impor dan pengelolaan pasokan jangka pendek, tetapi juga pada peningkatan produksi minyak dan gas domestik. "Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas," tegas Oki.

Kolaborasi menjadi strategi utama Pertamina. Kemitraan memungkinkan berbagi keahlian dan pengetahuan untuk mengurangi risiko bisnis, dengan Pertamina telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan energi global. "Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal," ujarnya.

Koordinasi dengan pemerintah juga krusial untuk keberlanjutan investasi energi. Dukungan pemerintah melalui perpanjangan masa kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, maupun insentif fiskal sangat dibutuhkan, terutama ketika rate of return investasi masih terbatas. Pemanfaatan teknologi, seperti supercomputer dan kecerdasan buatan (AI), juga semakin penting untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam eksplorasi dan pengambilan keputusan.

Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, Indonesia dinilai masih memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor energi, termasuk sumber daya migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR). Pertamina mendorong pengembangan teknologi produksi dan optimalisasi lapangan eksisting, termasuk melalui chemical enhanced oil recovery (EOR) dan optimalisasi sumur produksi. "Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan," tutup Oki Muraza.

Baca Juga :  Permendag Baru Perketat Impor Pangan, Jaga Swasembada

Also Read

Tinggalkan komentar