Proyek DDT Manggarai-Cikarang Molor, Ancam Kapasitas Perjalanan Kereta

Budi Santoso

Proyek DDT Manggarai-Cikarang Molor, Ancam Kapasitas Perjalanan Kereta

Proyek pembangunan jalur rel dwiganda (DDT) yang menghubungkan Manggarai hingga Cikarang, sebuah infrastruktur vital untuk memisahkan jalur kereta api jarak jauh (KAJJ) dan kereta rel listrik (KRL), menghadapi penundaan signifikan. Menteri Perhubungan periode 2019-2024, Budi Karya Sumadi, pada Maret 2018 pernah menekankan urgensi penyelesaian proyek ini pada tahun 2020. Namun, realitasnya menunjukkan target tersebut meleset, menimbulkan kekhawatiran akan minimnya kapasitas perjalanan kereta di masa mendatang.

DDT, yang merupakan sistem empat jalur rel, dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan perjalanan kereta api. Di lintasan sepanjang 35 kilometer antara Manggarai dan Cikarang, pemisahan jalur ini diharapkan dapat mencegah kepadatan dan potensi kecelakaan. Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten, Jumardi, mengungkapkan bahwa proyek ini telah dicanangkan sejak tahun 2002. Awalnya, proyek ini didanai oleh pinjaman dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dengan syarat pembebasan tanah 100 persen. Namun, hambatan dalam proses pembebasan lahan memaksa Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mengambil alih pendanaan sejak tahun 2015.

Sejarah penundaan proyek DDT Manggarai-Cikarang memang panjang. Pada tahun 2015, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di bawah kepemimpinan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memperkirakan proyek yang membentang sepanjang 34,14 kilometer ini akan rampung pada awal tahun 2018. Dirjen Perkeretaapian Kemenhub era Jonan, Hermanto Dwiatmoko, menjelaskan bahwa dana proyek ini bersumber dari pinjaman IP-508 yang dibagi dalam tiga periode. Pembangunan DDT sendiri dibagi menjadi empat paket pengerjaan dengan estimasi biaya yang bervariasi. Paket A (Manggarai-Jatinegara) senilai Rp3,440 triliun, Paket B2(1) (Jatinegara-Bekasi) Rp900 miliar, Paket B2(2) (Jatinegara-Bekasi) Rp260 miliar, dan Paket B1 (Bekasi-Cikarang) senilai Rp1,121 triliun.

Baca Juga :  Bank Raya RUPST 2026 Sahkan Laporan & Perubahan Pengurus

Hingga tahun 2021, progres pembangunan baru mencapai lintas Manggarai hingga Bekasi melalui Jatinegara. Ini berarti pemisahan jalur KRL Cikarang Line dan KAJJ baru terwujud pada lintasan tersebut. Namun, pembangunan DDT selanjutnya menuju Cikarang masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Akibatnya, KRL dan KAJJ masih harus berbagi jalur yang sama pada lintasan Bekasi hingga Cikarang, sebuah kondisi yang meningkatkan risiko kecelakaan.

Lambannya pembangunan DDT Manggarai-Cikarang menjadi sorotan tajam, terutama setelah insiden tragis tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jabodetabek di Stasiun Bekasi Timur. Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Riza Primadi, mengkritik bahwa tragedi yang merenggut banyak korban jiwa ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari kelalaian sistemik yang dibiarkan terjadi di bawah pengawasan para pemangku kebijakan. Peristiwa ini semakin mempertegas urgensi penyelesaian proyek DDT untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional perkeretaapian.

Also Read

Tinggalkan komentar