Presiden Bolivia Potong Gaji 50% untuk Redam Protes Nasional

Budi Santoso

Presiden Bolivia Potong Gaji 50% untuk Redam Protes Nasional

Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, mengambil langkah drastis dengan memangkas gajinya sendiri dan para menteri kabinet sebesar 50%. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap gelombang protes nasional yang semakin meluas, melumpuhkan perekonomian, dan memicu berbagai krisis di negara tersebut. Paz menyatakan bahwa pemotongan gaji ini merupakan wujud "komitmen pemerintah terhadap negara." Langkah ini dilakukan di tengah gejolak politik dan sosial yang telah memasuki pekan keempat dan terus memburuk. Demonstrasi anti-pemerintahan merebak di berbagai wilayah, menyebabkan gangguan rantai pasok yang signifikan, terutama di kota-kota besar seperti La Paz dan El Alto.

Para demonstran menuntut pemerintahan Paz untuk mencabut kebijakan penghematan anggaran, termasuk pemotongan subsidi bahan bakar, serta mengatasi kenaikan biaya hidup yang membebani masyarakat. Akibatnya, Bolivia menghadapi kelangkaan bahan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan. Dampaknya terasa di berbagai sektor, mulai dari aktivitas pasar, layanan rumah sakit, hingga operasional stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Rodrigo Paz baru menjabat sekitar enam bulan, dilantik pada November 2025. Gaji bulanannya sebagai presiden dilaporkan sekitar 24.000 bolivianos atau setara dengan US$ 3.500. Meskipun tergolong rendah dibandingkan pemimpin negara lain di Amerika Latin, angka ini masih delapan kali lipat dari gaji rata-rata warga Bolivia, menurut data Organisasi Buruh Internasional tahun 2024.

Sayangnya, langkah pemotongan gaji ini belum berhasil meredakan aksi protes. Pada hari pengumuman pemotongan gaji, Senin (25/5), polisi kembali terlibat bentrokan dengan ribuan demonstran yang terdiri dari penambang, petani, pekerja pabrik, dan berbagai kelompok lainnya. Ini merupakan pawai ketiga mereka dalam seminggu terakhir. Para pengunjuk rasa menyuarakan tuntutan agar Presiden Paz segera mengundurkan diri.

Baca Juga :  Pelindo Terminal Petikemas Sumbang Rp 1,73 Triliun untuk Negara di 2025

Kerusuhan memuncak ketika para demonstran berusaha menerobos barisan polisi di dekat gedung parlemen. Pihak kepolisian merespons dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Aksi demonstrasi yang terus berlanjut ini menunjukkan bahwa kebijakan penghematan anggaran dan krisis ekonomi yang dihadapi Bolivia masih menjadi isu krusial yang belum terselesaikan, meskipun pemerintah telah mengambil langkah simbolis dengan memotong gaji para pejabatnya. Situasi di Bolivia masih sangat dinamis dan membutuhkan solusi komprehensif untuk mengatasi akar permasalahan demonstrasi yang meluas ini.

Also Read

Tinggalkan komentar