
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa sejumlah negara kini berbondong-bondong mendatangi Indonesia untuk membeli beras, seiring dengan ancaman krisis pangan global yang semakin nyata. Situasi ini, menurut Prabowo, menunjukkan penguatan posisi Indonesia di kancah perdagangan pangan internasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Prabowo saat peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
"Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita, mereka-mereka yang merasa lebih hebat dari kita, yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita, tapi sekarang harus datang ke Indonesia meminta izin membeli beras," ujar Prabowo, menyoroti perubahan dinamika kekuatan di sektor pangan.
Presiden menjelaskan bahwa tren permintaan beras dari Indonesia ini muncul sebagai respons terhadap keputusan beberapa negara produsen pangan utama yang menghentikan ekspor komoditas pokok mereka. Salah satu contoh yang paling signifikan adalah penghentian ekspor beras, jagung, dan gandum oleh India. Kebijakan serupa kemudian diikuti oleh Bangladesh, yang semakin memperparah kekhawatiran akan ketersediaan pasokan pangan global. Kondisi ini memaksa banyak negara untuk mencari alternatif pasokan, dan Indonesia muncul sebagai salah satu opsi yang diandalkan.
Meskipun demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan serta-merta melepas pasokan beras ke pasar internasional tanpa pertimbangan yang matang. Prioritas utama tetap pada petani dalam negeri. "Saya bilang, beri. Kalau mereka butuh, kita harus bantu. Kita jual kepada mereka, tapi harganya harus baik. Jangan sampai petani kita jadi korban," tegas Prabowo.
Ia secara khusus meminta Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dan Perum Bulog untuk tidak menjual beras dengan harga yang terlalu murah, meskipun permintaan dari luar negeri sedang tinggi. "Jangan terlalu murah. Jangan juga terlalu tinggi, tapi petani kita harus tetap untung," pesannya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga kesejahteraan petani sebagai tulang punguk ketahanan pangan nasional.
Prabowo menegaskan bahwa dalam menghadapi ancaman krisis pangan global yang berkepanjangan, pemerintah harus selalu mengutamakan keamanan pangan nasional. Keputusan penjualan beras ke negara lain harus selalu mempertimbangkan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan domestik dan dampaknya terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri.
Lebih lanjut, Presiden mengungkapkan adanya upaya dari beberapa negara untuk meminta potongan harga dalam pembelian beras dari Indonesia. "Ada juga yang mau beli beras, lalu minta korting. Kortingnya banyak sekali, padahal dunia sedang krisis," ucapnya, menyiratkan bahwa ada pihak yang mencoba memanfaatkan situasi krisis untuk mendapatkan keuntungan lebih. Namun, pemerintah tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap transaksi harus menguntungkan semua pihak, terutama petani lokal, dan tidak boleh mengorbankan kedaulatan pangan nasional. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor beras, tetapi juga menjadi pemain yang bijak dan bertanggung jawab dalam sistem pangan global.











