
Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat yang erat kaitannya dengan konsumsi rumah tangga guna menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh positif sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Dipo menilai pertumbuhan ini cukup sehat, terutama didorong oleh belanja pemerintah yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan konsumsi.
Berdasarkan paparan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen, sementara konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen. Peningkatan belanja negara dan berbagai stimulus yang diberikan pada awal tahun menjadi faktor pendorong utama. Selain itu, momentum Ramadhan dan Idul Fitri turut memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas konsumsi masyarakat di triwulan pertama.
Namun, Dipo mengingatkan bahwa kondisi pada kuartal II 2026 diprediksi akan berbeda. Faktor musiman yang mendukung pertumbuhan di awal tahun tidak akan lagi menjadi penopang utama. Oleh karena itu, pemerintah perlu fokus pada upaya menjaga konsumsi rumah tangga agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. "Walaupun triwulan I cukup sehat, ada kekhawatiran pada triwulan II kita akan lebih menghadapi realitas ekonomi," ujar Dipo.
Ia menggarisbawahi bahwa kondisi ekonomi domestik masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satu kekhawatiran utama adalah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Fenomena lain yang patut diwaspadai adalah tren penurunan jumlah kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung utama konsumsi rumah tangga dan penggerak aktivitas ekonomi nasional dalam lima tahun terakhir. Dipo mengungkapkan bahwa kelas menengah mengalami penurunan signifikan, diperkirakan mencapai 11 juta orang dalam lima tahun terakhir.
Selain tantangan internal, ekonomi domestik juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi global, serta risiko inflasi impor menjadi ancaman yang perlu diantisipasi. Dipo menjelaskan bahwa kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi sektor industri, yang pada gilirannya dapat menekan konsumsi masyarakat. Kehati-hatian dan strategi yang tepat sangat diperlukan agar gejolak ekonomi dapat diminimalisir dan pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Sementara itu, di kawasan SCBD, PT Danayasa Arthatama sebagai pengelola kawasan turut meramaikan peringatan Hari Bumi 2026. Aktivitas yang dilakukan adalah pemadaman lampu di sejumlah titik strategis. Lokasi yang menjadi sasaran pemadaman meliputi gedung perkantoran, area komersial, serta fasilitas publik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu malam, 25 April 2026, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menghemat energi.











