Pertamina Jembatani Kampus dan Industri Energi Masa Depan

Budi Santoso

Pertamina Jembatani Kampus dan Industri Energi Masa Depan

Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 resmi dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan tema ‘Energizing Acceleration for Future Impact’. Program ini bertujuan mempertemukan mahasiswa dengan tantangan industri energi, membuka ruang bagi ide dan talenta muda agar tidak terbatas di ruang kelas. PGTC 2026 bukan sekadar kunjungan korporasi, melainkan upaya membangun ekosistem yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masa depan sektor energi Indonesia.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif Pertamina yang telah dirintis sejak awal dekade 2000-an, dan kemudian dibakukan menjadi PGTC pada tahun 2012. Sejak saat itu, PGTC terus menjangkau kampus-kampus di seluruh Indonesia, menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan realitas industri. Tahun ini, PGTC dirancang dalam format roadshow ke lima kota, dimulai dari ITB dan berlanjut ke kampus lain di Sumatera Barat, Sulawesi, serta lokasi yang masih dalam tahap finalisasi. Pertamina mengapresiasi dukungan pemerintah dan kampus yang terlibat.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, melihat dua manfaat utama dari kolaborasi ini. Pertama, mahasiswa mendapatkan kesempatan mengenal dunia industri lebih awal, yang seringkali sulit diperoleh hanya dari perkuliahan di kelas. Kedua, dosen dan sivitas akademika dapat melihat langsung bagaimana industri melakukan riset dan membuka peluang kerja sama penelitian. Mahasiswa juga mendapatkan pemahaman dini tentang kebutuhan dunia kerja, yang berpotensi menjadi jembatan menuju peluang magang dan pengalaman profesional di Pertamina Group.

Baca Juga :  Distribusi Farmasi Kuat, Perusahaan Cetak Laba di Ekonomi Sulit

Lebih strategis lagi, kolaborasi ini membuka peluang untuk mendesain kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. "Kita memahami bahwa sering kali tantangan industri jauh lebih cepat dari program pendidikan. Jadi mempertemukan pengelola pendidikan dengan Pertamina menjadi sangat penting karena kita bisa mendesain kurikulum bersama dengan industri," ujar Irwan.

Dukungan serupa datang dari pemerintah. Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Junaidi Khotib, menilai PGTC sebagai contoh konkret pertemuan setara antara kampus dan industri. Kolaborasi ini penting untuk memastikan lulusan perguruan tinggi tetap relevan dan meningkatkan daya saing mereka. Kementerian mendukung penuh sinergi yang menghadirkan industri ke lingkungan kampus, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi memperoleh gambaran nyata tentang kebutuhan industri, peluang karier, dan arah perkembangan sektor energi nasional. Junaidi berharap cakupan program ini dapat diperluas ke lebih banyak kampus, tidak hanya lima, guna membuka wawasan yang lebih luas bagi mahasiswa dan akademisi dalam mendukung mutu lulusan. Keterlibatan holding dan subholding Pertamina semakin memperluas ruang interaksi ini.

Also Read

Tinggalkan komentar