
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dialami saham Indonesia bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Hal serupa juga terjadi di berbagai negara Asia lainnya, mencerminkan dinamika pasar yang lebih luas.
Dalam peninjauan MSCI Global Standard Index terbaru, Jepang tercatat kehilangan 14 emiten, Taiwan tujuh emiten, Malaysia enam emiten, dan Korea Selatan tiga emiten. Bahkan, China, meskipun berhasil menambah 22 emiten baru, juga mengalami pengurangan sebanyak 24 emiten dari indeks tersebut. "Jadi ini mencerminkan adanya penyesuaian global portfolio allocation dan dinamika pasar yang cukup luas di kawasan, bukan semata isu spesifik Indonesia," ujar Friderica di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Friderica menjelaskan bahwa perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme peninjauan berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif. Parameter ini meliputi kapitalisasi pasar (market capitalization), free float (saham yang diperdagangkan bebas), likuiditas, dan dinamika harga saham.
Fenomena ini, menurut Friderica, terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik dalam peninjauan kali ini. Meskipun demikian, OJK memandang kondisi ini sebagai pengingat penting untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia. "OJK bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," tegasnya.
Lebih lanjut, Friderica memastikan bahwa fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil. Volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen OJK untuk terus membangun pasar yang sehat, transparan, dan kredibel bagi investor domestik maupun global.
"Ke depan, kami juga terus memperkuat koordinasi dengan BEI, SRO, dan seluruh pelaku pasar guna memastikan pasar modal Indonesia semakin attractive, liquid, dan investable dalam jangka panjang," pungkasnya. Penegasan ini menunjukkan komitmen OJK dalam menjaga dan meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di kancah global, meskipun menghadapi dinamika pasar yang bersifat global. Fokus pada peningkatan kualitas, likuiditas, dan tata kelola yang baik menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan tersebut. Dengan demikian, investor baik domestik maupun internasional dapat terus menaruh kepercayaan pada pasar modal Indonesia sebagai instrumen investasi yang menarik dan stabil.











