
Harga emas dunia dan logam mulia di pasar domestik diprediksi akan terus mengalami fluktuasi tajam pada pekan terakhir April 2026. Berdasarkan analisis terbaru, pergerakan instrumen investasi aman atau safe haven ini sangat bergantung pada dinamika geopolitik global yang kian memanas serta kebijakan moneter internasional. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga logam mulia akan bergerak di rentang Rp 2,8 juta hingga Rp 2,98 juta per gram dalam waktu dekat.
Saat ini, harga emas dunia berada di level 4.708 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia domestik bertengger di posisi Rp 2,845 juta per gram. Ibrahim memetakan dua skenario pergerakan harga yang perlu diwaspadai investor. Jika terjadi tren penurunan akibat aksi ambil untung (profit taking), level support pertama berada di angka 4.651 dolar AS per troy ons atau setara Rp 2,8 juta per gram. Jika tekanan berlanjut, level support kedua berada di posisi 4.520 dolar AS per troy ons dengan harga logam mulia di kisaran Rp 2,79 juta per gram.
Sebaliknya, jika sentimen positif mendorong penguatan, level resisten pertama diperkirakan mencapai 4.779 dolar AS per troy ons atau Rp 2,865 juta per gram. Dalam kondisi pasar yang sangat optimistis, harga bahkan berpotensi melonjak menuju target resisten kedua yang berada pada angka Rp 2,98 juta per gram. Prediksi penguatan ini sejalan dengan proyeksi kenaikan indeks dolar AS (DXY) ke level 102,50 dan lonjakan harga minyak mentah (crude oil) yang bisa menembus 107,4 dolar AS per barel.
Terdapat empat faktor utama yang memengaruhi ketidakpastian harga ini, yakni eskalasi geopolitik di Timur Tengah, peta perpolitikan di Amerika Serikat, kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), serta dinamika permintaan dan penawaran fisik. Ketegangan antara AS dan Iran menjadi sorotan utama, terutama setelah ancaman Donald Trump terkait penghancuran kapal Iran di Selat Hormuz, meskipun di sisi lain terdapat wacana gencatan senjata.
Situasi di Lebanon Selatan yang terus digempur Israel turut menambah risiko sistemik di pasar keuangan global. Kondisi ini membuat akhir April 2026 menjadi periode yang sangat krusial. Ketika risiko perang meningkat, investor cenderung beralih dari aset berisiko ke emas untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Oleh karena itu, fluktuasi harga emas pekan depan tidak hanya sekadar angka teknis, melainkan cerminan dari kegelisahan politik dan ekonomi dunia yang sedang berada di titik nadir.











