Pasar Obligasi RI Tangguh, Kemenkeu: Berkat Kebijakan dan Investor Domestik

Budi Santoso

Pasar Obligasi RI Tangguh, Kemenkeu: Berkat Kebijakan dan Investor Domestik

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengklaim pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap tangguh meskipun dihadapkan pada volatilitas global. Kekuatan ini didukung oleh kredibilitas kebijakan pemerintah dan basis investor domestik yang stabil, yang menjadi penopang utama ketahanan ekonomi nasional. Pernyataan ini disampaikan Suahasil dalam forum UBS Asian Investment Conference (AIC), sebuah platform global yang mempertemukan ribuan investor untuk membahas prospek ekonomi di kawasan Asia.

Dalam paparannya, Suahasil menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fondasi yang kuat, ditopang oleh empat pilar utama: konsumsi rumah tangga yang resilien, investasi yang terus bertumbuh, sektor manufaktur yang dinamis, dan sektor jasa yang berkembang pesat. Keempat sektor ini secara kolektif membentuk tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Suahasil menekankan komitmen pemerintah terhadap disiplin fiskal yang ketat. Ia menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap dijaga di bawah batas maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Komitmen ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara bertanggung jawab demi menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. APBN sendiri akan terus difungsikan sebagai "peredam kejut" (shock absorber) yang efektif, guna melindungi daya beli masyarakat dari guncangan ekonomi eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.

Keyakinan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia juga datang dari Joshua Tanja, Head of UBS Indonesia Research UBS Investment Bank. Tanja memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap stabil, didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang dianggap bijaksana. Momentum positif di sektor manufaktur dan jasa juga menjadi faktor pendukung utama. Selain itu, konsumsi rumah tangga diprediksi akan terus mendapat manfaat dari dukungan fiskal yang disalurkan secara tepat sasaran, yang diperkirakan akan menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Baca Juga :  Cukai Tembakau Layer Baru Dorong Petani & UMKM Legal

Forum UBS Asian Investment Conference (AIC) sendiri merupakan acara bergengsi yang diselenggarakan di Singapura dan Hong Kong, berhasil menarik partisipasi lebih dari 6.000 investor global. Konferensi ini menjadi wadah bagi lebih dari 3.000 pertemuan bisnis strategis yang melibatkan perusahaan publik, perusahaan swasta, dan para investor. Agenda utama dalam konferensi ini mencakup diskusi mendalam mengenai isu-isu makroekonomi global, termasuk perdagangan internasional, dinamika komoditas, serta perubahan kebijakan global, yang semuanya disajikan dalam latar belakang dinamika kebijakan dan perdagangan global yang terus berubah. Melalui dialog utama, diskusi panel yang mendalam, acara sampingan, dan tur riset yang dipimpin oleh UBS, AIC bertujuan untuk memberikan wawasan komprehensif mengenai peluang investasi di kawasan Asia, khususnya Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar