OJK Berharap Status Pasar Modal RI Tak Turun Jadi Frontier Market

Budi Santoso

OJK Berharap Status Pasar Modal RI Tak Turun Jadi Frontier Market

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni mendatang. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, berharap MSCI tidak akan menurunkan status tersebut, mengingat upaya perbaikan transparansi pasar modal yang telah dilakukan oleh self regulatory organization (SRO). "Moga-moga enggak ya, karena kalau kita lihat, misalnya kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi, kita mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran, supaya Indonesia tetap di Emerging Market," ungkapnya.

Meskipun demikian, Friderica mengakui potensi dampak pengumuman MSCI terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama mengingat lembaga penyedia indeks global itu juga akan mengumumkan hasil rebalancing saham RI. Ia mengimbau investor untuk tidak panik, karena penyesuaian yang dilakukan MSCI bersifat sementara seiring berjalannya reformasi pasar modal di Indonesia. "Mungkin bisa menjadi short term pain, tapi insyaallah menjadi long term gain. Jadi, jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Nggak, ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan. Kita harus melakukan perbaikan secara fundamental," tegasnya.

Pemerintah pun turut menantikan pengumuman status pasar modal Indonesia. Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Evita Manthovani, menyatakan masih ada waktu untuk meyakinkan lembaga global mengenai reformasi pasar modal RI. "Yang perlu kita cermati adalah keputusan final akan ditetapkan dalam market accessibility review pada Juni 2026 ini. Artinya, kita masih memiliki ruang sekaligus tanggung jawab untuk meyakinkan pasar global bahwa arah reformasi kita konsisten, terukur dan berkelanjutan," jelasnya.

Baca Juga :  Bank Mandiri Bagikan 2.800 Sembako di Bandung Lewat Aksi Sosial

Evita menekankan peran krusial pasar modal dalam mendukung pembiayaan, dengan proyeksi kebutuhan pembiayaan Indonesia mencapai Rp 9.200 triliun pada tahun 2029. "Ke depan kebutuhan pembiayaan Indonesia termasuk perbankan, pasar keuangan akan meningkat secara signifikan dari Rp 7.400 triliun menjadi sekitar Rp 9.200 triliun pada tahun 2029, di mana sebagian besar berasal dari sektor swasta dan masyarakat. Untuk itu peningkatan partisipasi investor domestik menjadi kunci," tambahnya. MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil rebalancing indeks saham RI pada 12 Mei, sementara pengumuman market accessibility review akan dilakukan pada Juni 2026.

Also Read

Tinggalkan komentar