
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinan kuat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap berpeluang besar menyentuh level psikologis 10.000 pada tahun ini. Meskipun pasar modal domestik tengah mengalami volatilitas tinggi dan tekanan jual yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir, Purbaya menilai fluktuasi tersebut merupakan dinamika jangka pendek. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh akan menjadi motor penggerak utama bagi kebangkitan indeks menuju rekor tertinggi baru. Menurutnya, selama indikator makroekonomi nasional terjaga dengan baik, performa pasar saham akan menyesuaikan diri secara otomatis mengikuti arah pertumbuhan ekonomi riil.
Optimisme ini disampaikan di tengah kondisi pasar yang sedang kurang bergairah. Pada perdagangan Jumat (24/4/2026), IHSG tercatat mengalami koreksi tajam dengan ditutup merosot 3,38 persen atau berada di level 7.129,4. Berdasarkan data dari RTI Business, indeks sempat dibuka pada level 7.378,0 dan mencapai titik tertinggi harian di 7.383,4 sebelum akhirnya terpuruk ke titik terendah di 7.115,9. Pelemahan ini tidak hanya terjadi secara harian, namun juga tercermin dalam performa mingguan yang anjlok sebesar 6,61 persen serta akumulasi pelemahan dalam tiga bulan terakhir yang mencapai 19,76 persen.
Purbaya menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas fundamental ekonomi, seperti pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, dan memastikan neraca perdagangan tetap surplus. Ia percaya bahwa fundamental yang bagus akan menjadi magnet bagi aliran modal asing (capital inflow) untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia. "Fokus saya adalah menjaga ekonomi, bukan sekadar menjaga angka IHSG. Karena pada akhirnya, IHSG akan melakukan penyesuaian otomatis terhadap kondisi fundamental ekonomi kita," ujar Purbaya di Gedung BPKP Kemenkeu, Jakarta Selatan.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas pasar yang sangat masif meskipun didominasi oleh sentimen negatif. Volume transaksi harian tercatat mencapai 47,128 miliar saham dengan nilai transaksi yang fantastis sebesar Rp 24.338 triliun. Frekuensi perdagangan pun menembus angka 2.685.047 kali transaksi. Kondisi pasar saat ini memperlihatkan dominasi tekanan jual, di mana sebanyak 670 saham mengalami pelemahan, berbanding terbalik dengan hanya 83 saham yang menguat dan 62 saham stagnan. Meskipun angka-angka ini menunjukkan tekanan hebat, pemerintah optimistis bahwa fase konsolidasi ini akan segera berakhir seiring dengan membaiknya persepsi risiko global dan penguatan struktur ekonomi domestik yang berkelanjutan hingga akhir tahun.











