
Harga berbagai perabot rumah tangga di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, dilaporkan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini merata pada barang-barang berbahan plastik, alumunium, hingga melamin, yang menjadi kebutuhan pokok rumah tangga. Pedagang di pasar tradisional ini mengeluhkan dampak mahalnya bahan baku dan biaya distribusi yang terus meningkat, menyebabkan harga jual barang menjadi lebih tinggi.

Fenomena kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan pada satu atau dua jenis barang, melainkan hampir seluruhnya. Sebagai contoh, panci alumunium mengalami kenaikan harga sekitar 20 persen. Kain pel berbahan plastik yang sebelumnya bisa dibeli dengan harga Rp 20.000 per buah, kini dijual seharga Rp 25.000. Perubahan harga ini tentu membebani konsumen yang berbelanja di pasar tersebut.
Lebih lanjut, produk gelas bening berbahan plastik yang menjadi favorit banyak rumah tangga juga mengalami kenaikan harga yang cukup terasa. Sebelumnya, satu lusin gelas bening plastik dijual dengan harga Rp 70.000, namun kini harganya melonjak menjadi Rp 90.000 per lusin. Demikian pula dengan piring melamin, yang mengalami kenaikan dari Rp 66.000 menjadi Rp 72.000 per lusin. Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan inflasi yang cukup kuat pada sektor perabot rumah tangga.

Para pedagang di Pasar Jatinegara menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh berbagai faktor, terutama yang berkaitan dengan kondisi ekonomi global. Mahalnya harga bahan baku utama seperti plastik dan alumunium menjadi penyebab utama. Ketergantungan pada pasokan bahan baku impor atau yang harganya dipengaruhi oleh pasar internasional membuat produsen dan pedagang sulit untuk menahan kenaikan harga.
Selain itu, biaya logistik dan distribusi barang dari para pemasok juga ikut meningkat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya operasional transportasi lainnya secara langsung berdampak pada biaya pengiriman barang ke pasar. Akibatnya, harga jual di tingkat konsumen pun terpaksa disesuaikan untuk menutupi biaya operasional yang membengkak.

Kondisi pasar saat ini semakin dirasakan berat oleh para pedagang. Mereka mengeluhkan bahwa harga barang yang ditawarkan oleh reseller atau toko daring tidak jauh berbeda dengan harga grosir yang mereka dapatkan di Pasar Jatinegara. Hal ini menciptakan persaingan penjualan yang semakin ketat, terlebih lagi daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih pasca berbagai tantangan ekonomi.
Beberapa pedagang bahkan menggunakan istilah "ganti harga" untuk menggambarkan besarnya lonjakan yang terjadi. Ada barang-barang yang mengalami kenaikan harga hingga hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya. Kondisi ini membuat mereka harus berhati-hati dalam melakukan stok barang dan penetapan harga jual agar tetap dapat bersaing dan bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat. Para pedagang berharap ada solusi dari pemerintah atau kebijakan yang dapat membantu menstabilkan harga bahan baku dan biaya distribusi agar harga perabot rumah tangga dapat kembali terjangkau oleh masyarakat luas.











