Menkeu Purbaya Bantah Rupiah Lemah Akibat APBN Goyah

Budi Santoso

Menkeu Purbaya Bantah Rupiah Lemah Akibat APBN Goyah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas membantah anggapan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) disebabkan oleh kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang goyah. Pernyataan ini disampaikan Purbaya menanggapi kekhawatiran publik yang mengaitkan pelemahan Rupiah hingga menembus level Rp 17.400 pada perdagangan Selasa (5/5/2026) dengan kesehatan fiskal negara. Purbaya memilih untuk tidak mengomentari lebih jauh urusan moneter, menyerahkannya kepada otoritas yang berwenang, yaitu Bank Indonesia (BI). "Kalau Rupiah nantinya BI aja yang jawab, jangan tanya saya. Mereka yang berhak jawab," ujar Purbaya saat Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Alih-alih berfokus pada isu moneter, Purbaya justru menyoroti kekuatan ketahanan energi Indonesia yang diklaimnya berada di atas negara-negara adidaya dan eksportir komoditas besar lainnya. "Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat. Itu nomor dua tuh. Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain, bahkan di atas Amerika, di atas Cina, di atas Australia," klaim Purbaya, menunjukkan keunggulan Indonesia dalam menghadapi guncangan global dari sektor energi.

Dari sisi fiskal, Purbaya memaparkan bahwa defisit APBN masih terjaga dengan baik. Hingga saat ini, defisit tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah batas aman 3% yang telah ditetapkan. Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menjaga defisit APBN di bawah batas tersebut sepanjang tahun, sesuai dengan desain fiskal yang telah disusun. Ia juga mengingatkan agar angka defisit tidak disederhanakan dengan proyeksi liar, karena realisasi belanja dan siklus pendapatan serta belanja akan bervariasi sepanjang tahun. "Yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3% sesuai dengan desain APBN," tegasnya.

Baca Juga :  Cukai Rokok Tetap Hingga 2027, Industri Tembakau Apresiasi

Lebih lanjut, Purbaya memaparkan kinerja APBN hingga Maret 2026 yang menunjukkan pertumbuhan positif dan ekspansif. Pendapatan negara tercatat tumbuh sekitar 10% secara tahunan, mencapai Rp 574,9 triliun. Penerimaan perpajakan menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 14%, dengan total Rp 462 triliun. Khusus penerimaan pajak, angkanya mencapai Rp 394,8 triliun, dengan pertumbuhan impresif sebesar 20,7%. Data ini menunjukkan bahwa fondasi fiskal negara dalam kondisi yang kokoh dan mampu memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi, meskipun ada sentimen negatif terkait nilai tukar Rupiah. Fokus Purbaya pada ketahanan energi dan kesehatan fiskal APBN menjadi upaya untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kondisi ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan global.

Also Read

Tinggalkan komentar