
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, angkat bicara mengenai usulan pemindahan gerbong khusus wanita ke tengah rangkaian KRL, menyusul insiden tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Jakarta. Dudy menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan adalah prioritas utama bagi seluruh penumpang, tanpa memandang gender. Menurutnya, penempatan gerbong wanita di bagian depan dan belakang rangkaian KRL selama ini bertujuan untuk memudahkan akses dan memberikan kenyamanan bagi penumpang perempuan. Ia berpendapat bahwa jika gerbong wanita dipindahkan ke tengah, penumpang lain, termasuk pria, dapat melintasinya, sehingga mengurangi efektivitas gerbong khusus tersebut dalam mencegah tindakan yang tidak diinginkan. "Kalau di tengah penumpang kan bisa bergeser dari depan ke belakang. Tapi kalau di belakang, penumpang tidak bisa berlalu-lalang. Jadi kalau mereka di situ, itu untuk mencegah kalau misalnya ada yang melakukan hal yang tidak baik," jelas Dudy saat berada di rangkaian KRL menuju Stasiun Cikarang.
Senada dengan Menteri Perhubungan, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, juga menegaskan bahwa keselamatan seluruh penumpang KRL adalah prioritas utama perusahaan, dan tidak ada perbedaan tingkat keselamatan antara penumpang perempuan dan laki-laki. Bobby menjelaskan bahwa penempatan gerbong khusus wanita di ujung rangkaian KRL telah mempertimbangkan beberapa aspek penting. Pertama, untuk mencegah pelecehan seksual (harassment). Kedua, untuk memberikan kemudahan akses bagi penumpang perempuan. Ketiga, untuk meningkatkan keamanan karena gerbong tersebut lebih dekat dengan petugas keamanan yang berjaga di kedua ujung rangkaian. "Selama ini kami melakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek. Aspek pertama adalah supaya tidak terjadi yang namanya harassment. Kedua adalah memberikan kemudahan akses untuk para perempuan. Ketiga adalah memberikan security yang lebih karena itu kan lebih dekat dengan petugas keamanan dari ujung ke ujung. Jadi untuk sementara aspek itu yang kita gunakan," ujar Bobby di kawasan Stasiun Bekasi Timur.
Usulan pemindahan gerbong khusus wanita ke tengah rangkaian KRL ini sebelumnya disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. Usulan tersebut muncul sebagai respons terhadap insiden tabrakan maut yang terjadi. "Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah kepada wartawan setelah menjenguk korban di RSUD Bekasi. Pernyataan ini menimbulkan perdebatan mengenai efektivitas dan keamanan penempatan gerbong khusus wanita.
Pihak KAI sendiri menyatakan akan terus mengevaluasi dan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak demi meningkatkan kenyamanan dan keamanan seluruh penumpang KRL. Meskipun demikian, penegasan dari Menteri Perhubungan dan Dirut KAI menunjukkan bahwa fokus utama tetap pada keselamatan universal tanpa diskriminasi gender, namun tetap mempertimbangkan aspek kenyamanan dan pencegahan potensi tindak kejahatan melalui penempatan gerbong yang strategis. Peristiwa ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali berbagai kebijakan terkait keselamatan dan kenyamanan penumpang di transportasi publik, khususnya KRL yang memiliki tingkat mobilitas tinggi. Analisis lebih lanjut mengenai dampak psikologis dan sosial dari penempatan gerbong khusus wanita, serta kajian mengenai desain interior dan tata letak gerbong yang lebih aman dan nyaman bagi semua penumpang, perlu dilakukan secara komprehensif.











