
Pemerintah Indonesia menaruh harapan besar pada ekspansi belanja sosial, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tahun 2026. Strategi ini menjadi krusial di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penguatan belanja pemerintah adalah kunci utama untuk mendorong permintaan domestik. "Belanja pemerintah juga tumbuh 21 persen. Ini sesuai strategi kita untuk meratakan belanja sepanjang tahun," ujar Purbaya dalam Taklimat Media APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).
Realisasi program MBG hingga 31 Maret 2026 telah mencapai angka signifikan sebesar Rp 55,34 triliun, dengan jangkauan lebih dari 61,8 juta penerima yang tersebar di lebih dari 26 ribu satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Selain itu, anggaran ketahanan pangan juga menunjukkan kinerja positif, dengan realisasi Rp 53,7 triliun atau 25,5 persen dari pagu Rp 210,4 triliun. Anggaran ini dialokasikan untuk berbagai program strategis seperti subsidi pupuk, dukungan kepada Bulog, serta berbagai intervensi untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan.
Langkah-langkah ini sangat penting mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen, memberikan kontribusi lebih dari separuh terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Purbaya menekankan bahwa penguatan konsumsi adalah kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang meliputi tekanan harga komoditas dan perlambatan ekonomi di berbagai negara. "Permintaan kita dorong supaya ekonomi tetap bergerak," katanya optimis.
Senada dengan Purbaya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah akan terus mengandalkan belanja negara sebagai penopang pertumbuhan ekonomi, terutama pada kuartal kedua tahun 2026. "Belanja pemerintah menjadi penopang, dan ini juga akan menjadi penopang di kuartal kedua," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga menjadi perhatian, yang dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan Dolar AS, khususnya pada periode pembayaran dividen dan musim haji. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk menjalin kerja sama swap mata uang dengan sejumlah negara.
Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, efektivitas belanja sosial menjadi sorotan utama. Dengan realisasi belanja negara yang tumbuh 31,4 persen hingga Maret dan defisit anggaran yang berhasil dijaga di kisaran 0,93 persen PDB, pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan ekspansi fiskal dengan keberlanjutan anggaran. Namun, optimisme tetap dijaga. Pemerintah meyakini bahwa strategi penguatan konsumsi domestik melalui program MBG, belanja pangan, dan berbagai stimulus lainnya akan mampu menjaga daya beli masyarakat. Kombinasi ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan yang efektif dalam menahan dampak perlambatan ekonomi global sepanjang tahun 2026, serta memastikan mesin pertumbuhan ekonomi nasional tetap berputar kencang.











