
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap solid, melampaui angka 5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Head of Macroeconomic and Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap terjaga di kisaran 5,1-5,5 persen pada kuartal II 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers Mandiri Macro dan Market Brief Kuartal II 2026 yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 11 Mei 2026.
Realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen (yoy). Dian menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026, yang tidak akan berulang pada kuartal-kuartal berikutnya. Salah satu faktor tersebut adalah momentum Ramadan dan Idul Fitri yang jatuh pada periode Februari-Maret 2026. "Ini artinya pertumbuhan di kuartal II mungkin akan melandai," ungkapnya.
Dian juga memaparkan proyeksi data ekonomi untuk kuartal II 2026 hingga akhir tahun. Ia menyoroti sejumlah risiko yang dihadapi ekonomi domestik, terutama terkait dengan sentimen perang yang bergulir di Timur Tengah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah terdepresiasi sekitar 3,9 persen secara year to date (ytd). Sementara itu, harga minyak mentah berada di kisaran 82 dolar AS per barel, lebih tinggi dari asumsi makro APBN 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.
Tingkat inflasi tercatat cukup terjaga, berada di angka 3,48 persen pada akhir kuartal I 2026 dan 2,42 persen pada April 2026. Namun, Dian memproyeksikan inflasi berpotensi meningkat akibat faktor kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan LPG diperkirakan akan menambah sekitar 0,15 persen terhadap inflasi. Ditambah lagi dengan potensi dampak fenomena El Nino, Bank Mandiri memproyeksikan inflasi pada akhir tahun bisa mencapai 3,5 persen (yoy), melampaui target sasaran inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Lebih lanjut, Dian mengemukakan bahwa dampak perang di Timur Tengah, ditambah dengan kepemimpinan Presiden AS Donald Trump pada periode kedua, memberikan dampak yang lebih buruk terhadap pasar keuangan dibandingkan periode pertama pada 2019. Indeks saham di AS menunjukkan volatilitas yang tinggi, dengan yield US Treasury yang mengalami kenaikan signifikan. "Ini juga akhirnya terefleksi di pasar keuangan domestik. Kita lihat tekanan di pasar keuangan baik dari sisi pasar saham, pasar obligasi, dan kurs rupiah. Memang penggerak utama dari pasar kita terutama adalah sentimen dari AS dan Iran," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sentimen pasar yang sempat positif minggu lalu kini kembali negatif. Oleh karena itu, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, perlu terus memantau perkembangan, terutama terkait sentimen di Timur Tengah, khususnya aliran di Selat Hormuz.











