
Indonesia mencatat rekor baru dalam penguatan stok pangan nasional, ditandai dengan surplus produksi beras yang signifikan. Kondisi ini membuat Indonesia kini menjadi pemasok beras potensial bagi negara lain, termasuk Malaysia yang secara resmi mengajukan permintaan pembelian beras dalam jumlah besar. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengkonfirmasi bahwa Malaysia berminat membeli hingga 500.000 ton beras dari Indonesia. Permintaan ini merupakan indikator kuat perubahan posisi Indonesia di pasar pangan regional dan global.
Permintaan dari Malaysia ini muncul di tengah data yang menunjukkan stok beras nasional Indonesia saat ini mencapai angka fantastis 5,3 juta ton. Jumlah stok yang begitu besar bahkan membuat kapasitas gudang Perum Bulog terisi penuh, memaksa pemerintah untuk mencari dan menyewa gudang tambahan demi menampung seluruh cadangan beras.
Kekuatan stok beras nasional ini ditopang oleh produksi beras yang impresif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Food and Agriculture Organization (FAO), hingga United States Department of Agriculture (USDA), produksi beras Indonesia diperkirakan berada di kisaran 34,6 juta ton. Angka tersebut menghasilkan surplus sekitar 4 juta ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti betapa berbedanya posisi Indonesia saat ini dibandingkan beberapa tahun lalu. Dulu, Indonesia merupakan salah satu importir beras terbesar di dunia. Namun, kebijakan penghentian impor beras selama dua tahun terakhir telah memberikan dampak signifikan terhadap dinamika harga beras global. Amran mengklaim bahwa penghentian impor oleh Indonesia telah menyebabkan penurunan harga beras dunia. Jika sebelumnya harga beras dunia berkisar di angka 660 dolar AS per ton, kini harganya turun drastis menjadi antara 340 hingga 380 dolar AS per ton. "Indonesia adalah importir beras terbesar dunia dan tiba-tiba stop. Pasti harga turun kan?" ujar Amran.
Lebih lanjut, Amran menegaskan bahwa stok pangan nasional Indonesia saat ini dinilai sangat cukup untuk menghadapi berbagai potensi gangguan, termasuk dampak perubahan iklim seperti El Nino maupun krisis pangan global yang mungkin terjadi. Ia memperkirakan bahwa kombinasi cadangan beras yang ada dan produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional hingga sekitar 11 bulan ke depan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, juga memberikan konfirmasi mengenai keamanan stok beras nasional. Hingga saat ini, cadangan beras yang dikelola Bulog tercatat sebesar 5,3 juta ton. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa stok beras akan terus meningkat, diperkirakan mencapai sekitar 6 juta ton pada akhir Mei 2026. Angka ini akan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah Bulog sejak lembaga tersebut didirikan.
"Insya Allah aman. Jadi, kalau melihat stok yang sekarang sudah mencapai 5,3 juta ton, kami pastikan menghadapi El Nino itu akan aman," kata Rizal di Jakarta pada Senin (11/5/2026). Capaian stok 5,3 juta ton ini melampaui rekor sebelumnya yang berada di kisaran 4,2 juta ton. Bulog berkomitmen untuk terus memperkuat upaya penyerapan gabah dari petani dan memastikan distribusi pangan yang lancar guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Perhatian terhadap ketahanan pangan juga menjadi sorotan utama di tingkat kepemimpinan nasional. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyuarakan kekhawatirannya terkait risiko perubahan iklim dan fenomena El Nino terhadap produksi pangan di kawasan ASEAN. Dalam KTT ASEAN ke-48 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina, Presiden Prabowo secara aktif mendorong penguatan kerja sama pangan antarnegara di kawasan ASEAN. Salah satu bentuk kerja sama yang diusulkan adalah melalui penguatan cadangan pangan bersama, termasuk melalui mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR). Langkah ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan regional.











