KSSK Pantau Ketat Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi RI

Budi Santoso

KSSK Pantau Ketat Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi RI

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kesiapannya untuk terus mencermati dan menganalisis secara mendalam potensi dampak dari tekanan ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian domestik Indonesia. Keputusan ini diambil dalam rapat berkala yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan utama di sektor keuangan, yaitu Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa kondisi global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian yang signifikan. "Global masih penuh ketidakpastian, kita akan waspadai terus untuk ekonomi domestik," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Ia menjelaskan bahwa dinamika penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi faktor krusial yang mendorong volatilitas di pasar keuangan global, terutama dalam kaitannya dengan lonjakan harga energi. Fenomena ini menuntut KSSK untuk senantiasa melakukan asesmen forward looking terhadap kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini.

Lebih lanjut, Purbaya merinci bahwa KSSK, yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi prospek ekonomi serta stabilitas sektor keuangan. "KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua Dewan Komisioner LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat," tegasnya.

Baca Juga :  DPR Minta BI Stabilkan Rupiah di Rp16.500/Dolar

Selain pemantauan yang intensif, KSSK juga berencana untuk mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi yang terkoordinasi. Upaya ini akan melibatkan kolaborasi erat antar lembaga anggota KSSK, serta koordinasi dengan kementerian dan lembaga pemerintah lainnya. Sinergi antar lembaga diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini menunjukkan angka yang menggembirakan sebesar 5,61%, KSSK tetap waspada terhadap potensi tantangan yang mungkin muncul di triwulan kedua dan seterusnya. "Kita lihat triwulan pertama pertumbuhan cukup bagus 5,61%, tetapi kita akan melihat seperti apa di triwulan II tahun ini. Kita waspadai semua kendala yang mungkin timbul dan kita melihat semua hal-hal makro yang ada," imbuh Purbaya. Fokus pada analisis indikator makroekonomi akan menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (aid/fdl)

Also Read

Tinggalkan komentar