Konflik Hormuz: AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Meroket

Budi Santoso

Konflik Hormuz: AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Meroket

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak di perairan strategis Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dunia. Perdagangan awal di Asia pada Kamis (28/5/2026) menyaksikan harga minyak mentah AS melonjak hampir 2% menjadi US$ 90,38 per barel, sebuah kenaikan signifikan setelah sebelumnya sempat anjlok 5%. Insiden ini dipicu oleh laporan saling serang antara kedua negara di jalur pelayaran vital tersebut.

Presiden AS Donald Trump secara tegas menolak laporan televisi pemerintah Iran yang menyebutkan adanya rancangan kesepakatan pemulihan pelayaran di Selat Hormuz yang akan melibatkan Iran dan Oman. Trump menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang akan memiliki kendali atas perairan internasional ini. Lebih lanjut, ia melontarkan ancaman keras terhadap Oman, menyatakan bahwa jika negara tersebut tidak berperilaku sesuai, AS akan mengambil tindakan tegas. "Tidak ada yang akan mengendalikan (selat itu)," ujar Trump. "Itu perairan internasional dan Oman akan berperilaku seperti negara lain atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja," tambahnya, menunjukkan ketegasan AS dalam mempertahankan akses navigasi.

Tak lama setelah pernyataan kontroversial Trump, seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan balasan baru. Serangan ini dilaporkan menargetkan operasi drone Iran yang dinilai mengancam pasukan AS serta pelayaran komersial di Selat Hormuz. Menurut pejabat tersebut, militer AS berhasil menembak jatuh empat pesawat nirawak serang Iran dan melakukan serangan terhadap stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas yang diduga hendak meluncurkan drone kelima. Tindakan ini dijelaskan sebagai respons yang terukur, murni bersifat defensif, dan bertujuan untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh.

Baca Juga :  Kemitraan Strategis Dorong Pameran Dagang Indonesia ke Pasar Global

Namun, Iran menyajikan versi kejadian yang berbeda. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi Iran telah melepaskan tembakan ke arah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi selat tersebut, memaksa kapal itu untuk berbalik arah. Iran juga mengklaim bahwa serangan AS hanya mengenai area terbuka di sekitar Bandar Abbas, tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan yang berarti. Perbedaan narasi ini semakin memperumit situasi dan menambah ketidakpastian di kawasan tersebut.

Konflik di Selat Hormuz memiliki dampak global yang signifikan, terutama terhadap pasokan energi. Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, dilewati oleh sekitar 30% minyak mentah yang diangkut melalui laut. Setiap gangguan atau peningkatan ketegangan di wilayah ini berpotensi menyebabkan volatilitas pasar energi, yang dapat dirasakan oleh konsumen di seluruh dunia melalui kenaikan harga bahan bakar dan barang-barang yang bergantung pada transportasi.

Peristiwa ini juga menyoroti eskalasi taktik perang modern, termasuk penggunaan drone oleh Iran dan respons cepat dari militer AS. Kemampuan kedua negara untuk saling menyerang di area yang sensitif secara strategis menunjukkan potensi konflik yang berkepanjangan. Sikap tegas kedua belah pihak, terutama ancaman Trump terhadap Oman dan klaim Iran mengenai perlawanan terhadap kapal tanker AS, mengindikasikan bahwa jalan menuju de-eskalasi masih panjang dan penuh tantangan. Komunitas internasional terus memantau dengan cermat perkembangan di Selat Hormuz, berharap agar ketegangan dapat mereda dan stabilitas di jalur pelayaran vital ini dapat segera pulih.

Baca Juga :  Allianz Syariah Salurkan 1.000 Paket Daging Kurban Bersama Lazismu

Also Read

Tinggalkan komentar