Kimia Farma Tunggu Arahan Pemisahan dari Holding Bio Farma

Budi Santoso

Kimia Farma Tunggu Arahan Pemisahan dari Holding Bio Farma

Kimia Farma tengah menanti keputusan strategis terkait potensi pemisahannya dari holding farmasi BUMN, PT Bio Farma (Persero). Keputusan ini merupakan inisiatif dari Danantara, yang berencana merampingkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan. Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menegaskan bahwa pihaknya bertindak sebagai objek dalam rencana ini dan akan mengikuti arahan dari Bio Farma. "Kami menunggu dari Biofarma, karena kami sebagai objek di sini. Bukan kami berinisiatif, tapi kami ada sebagai objek, di mana teman-teman dari Bio Farma lah yang akan menentukan," ujar Djagad saat acara Public Expose di kantor Bio Farma Group, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Djagad menjelaskan bahwa ketidakpastian waktu pelaksanaan pemisahan ini disebabkan oleh fakta bahwa inisiatif tersebut berasal dari Danantara dan Bio Farma selaku holding BUMN farmasi. Meskipun demikian, Kimia Farma siap mengikuti setiap arahan yang diberikan. Rencana pemangkasan jumlah BUMN yang diinisiasi oleh Danantara ini merupakan bagian dari upaya efisiensi dan restrukturisasi guna meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan-perusahaan pelat merah. Proses "deholdingisasi" atau pemisahan dari holding ini merupakan salah satu strategi yang sedang dipertimbangkan. "Pelaksanaan deholdingisasi, kita menunggu saja, sesuai dengan arah Bio Farma. Tapi kalau streamlining, pengurangan atau mengurangi jumlah anak usaha, itu kita sedang berproses," ungkap Djagad.

Baca Juga :  WIKA Rombak Jajaran Direksi & Komisaris: Pasek Pimpin Perusahaan

Selain menunggu arahan terkait pemisahan holding, Kimia Farma juga telah proaktif melakukan langkah-langkah perbaikan internal. Sepanjang tahun 2025, perseroan telah berhasil memperbaiki portofolio produknya melalui proses rasionalisasi. Sebanyak 181 produk yang dinilai tidak lagi prospektif atau tidak dilanjutkan produksinya telah dihapuskan. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah produk eksisting dari 675 menjadi 494 produk pada akhir tahun 2025. Upaya rasionalisasi produk ini merupakan bagian dari strategi Kimia Farma untuk fokus pada produk-produk unggulan dan meningkatkan efisiensi operasional serta profitabilitas. Dengan demikian, Kimia Farma menunjukkan komitmennya untuk beradaptasi dengan dinamika pasar dan kebijakan pemerintah demi mencapai kinerja yang optimal di masa depan, baik sebagai bagian dari holding maupun setelah potensi pemisahannya.

Also Read

Tinggalkan komentar