
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel Indonesia diperkirakan memasuki era baru pada 2026, mengakhiri lima tahun kelebihan pasokan global yang menekan harga dan menyebabkan penutupan tambang di berbagai negara. Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia, menyoroti peran krusial kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengendalikan volume produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta menaikkan Harga Patokan Mineral (HPM) sebagai faktor penentu perubahan keseimbangan pasar global.
"Pasar nikel selama 2020 hingga 2025 berada dalam kondisi oversupply. Terlalu banyak produk masuk ke pasar sehingga harga terus tertekan dan persediaan meningkat," ujar Baudelet dalam paparannya mengenai prospek industri nikel 2026. Ia menekankan bahwa kondisi ini mulai bergeser pada 2026 berkat kendali produksi dan perbaikan tata kelola harga bahan baku oleh Indonesia, produsen dominan dunia. "Kabar baiknya, pada 2026 situasinya mulai berbeda. Dan itu lagi-lagi karena Indonesia," tambahnya.
Transformasi industri nikel Indonesia dalam satu dekade terakhir sangat signifikan. Pada 2014, Indonesia hanya menyumbang sekitar 8% produksi nikel dunia, namun pada 2025 melonjak menjadi sekitar 65% dan diproyeksikan terus meningkat hingga 75-80% dalam beberapa tahun ke depan seiring pembangunan kapasitas baru. "Indonesia sekarang menjadi pusat kekuatan produksi nikel dunia. Apa yang terjadi di Indonesia akan memengaruhi seluruh pasar nikel global," tegas Baudelet.
Pertumbuhan industri nikel global masih didominasi oleh sektor baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. Konsumsi nikel untuk baterai diprediksi mencapai sekitar 1,8 juta ton dalam 10 tahun mendatang. Meskipun pertumbuhannya tidak sebesar ekspektasi awal akibat munculnya baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel, permintaan tetap menunjukkan peningkatan signifikan. "Kami masih melihat kenaikan sekitar 200% dalam 10 tahun ke depan. Pada 2035, baterai akan mewakili sekitar 30% permintaan nikel dunia," ungkap Baudelet.
Namun, pasar baja nirkarat tetap menjadi tulang punggung konsumsi nikel global, menyerap sekitar 65-70% konsumsi dunia dengan pertumbuhan sekitar 5% per tahun. "Kadang orang terlalu fokus pada kendaraan listrik dan lupa bahwa stainless steel tetap menjadi pasar utama nikel," katanya.
Perubahan struktur industri hilir nikel Indonesia juga patut dicermati. Jika awalnya didominasi oleh Nickel Pig Iron (NPI) untuk industri baja nirkarat, dalam tiga tahun terakhir Indonesia mengembangkan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk menghasilkan nikel murni dan bahan kimia baterai. "Indonesia memulai pengembangan dengan NPI dan pirometalurgi, lalu memasuki fase kedua melalui HPAL," jelas Baudelet.
Pergeseran ini terlihat pada pola ekspor. Material baterai seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), matte, dan logam nikel kini mulai mengambil porsi besar, menggantikan dominasi NPI. "Kalau digabungkan, MHP, matte, dan metal sekarang hampir mencapai 30% dari profil ekspor nikel Indonesia. Ini perubahan besar dibanding lima tahun lalu," ujar Baudelet.
Kebijakan baru HPM pemerintah dinilai positif karena memberikan nilai yang lebih adil terhadap kandungan mineral dalam bijih nikel, memasukkan unsur tambahan seperti besi, kobalt, dan kromium selain kadar nikel dan air. Pendekatan ini mencerminkan nilai nyata industri pengolahan. Namun, penyesuaian HPM juga menimbulkan tantangan bagi perusahaan HPAL di Indonesia, terutama terkait harga limonit yang kini mendekati standar global, sementara biaya sulfur melonjak. "Kombinasi HPM baru dan kenaikan biaya sulfur cukup sulit diserap perusahaan HPAL saat ini, namun kami percaya pada akhirnya kebijakan ini akan tetap berlaku," kata Baudelet.
Tekanan harga selama lima tahun terakhir telah memaksa banyak produsen nikel di luar Indonesia menghentikan operasi. Eramet mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengendalikan produksi untuk mencegah kelebihan pasokan berkepanjangan. "Kami mendukung pasar yang tidak mendorong overproduksi dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab demi menjaga masa depan," pungkas Baudelet.











