
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengisyaratkan potensi peningkatan penerbitan panda bond di pasar Tiongkok. Keputusan ini akan sangat bergantung pada keunggulan biaya bunga yang ditawarkan dibandingkan dengan surat utang yang berdenominasi dolar Amerika Serikat. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk menekan biaya utang negara, tetapi juga untuk memperkuat basis sumber pembiayaan pemerintah.
Menurut Purbaya, estimasi bunga untuk panda bond berada di kisaran 2,3 persen, atau sedikit di atas angka tersebut. Angka ini secara signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan biaya penerbitan surat utang global yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang dasar. "Kalau bunganya lebih rendah, kan hemat kita," ujar Purbaya dalam sebuah taklimat media yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026. Pernyataan ini menegaskan prioritas pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara efisien.
Selain efisiensi biaya, panda bond juga dipandang sebagai instrumen krusial untuk diversifikasi sumber pendanaan. Pemerintah berupaya agar ketergantungan terhadap satu pasar saja dapat diminimalisir. Dengan memiliki beragam sumber pendanaan, negara akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengelola kewajibannya. "Kedua, diversifikasi, jadi kita punya sumber pendanaan yang lebih kuat," jelasnya lebih lanjut. Diversifikasi ini penting untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika pasar keuangan global yang selalu berubah.
Untuk menjajaki lebih jauh potensi ini, Purbaya telah menugaskan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, untuk melakukan kajian mendalam mengenai minat investor terhadap panda bond. Jika respons pasar menunjukkan antusiasme yang tinggi, penerbitan surat utang ini dapat ditingkatkan skalanya. "Saya bilang ke Pak Minto, kalau banyak peminatnya, hajar saja di situ, perbanyak di situ," ungkap Purbaya, menunjukkan kesiapan pemerintah untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Penerbitan panda bond merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk terus berinovasi dalam mencari sumber pendanaan yang optimal. Tiongkok, sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia, menawarkan pasar yang menarik dengan potensi likuiditas yang tinggi. Dengan mengoptimalkan penerbitan panda bond, Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan kompetitif pasar Tiongkok untuk memperkuat struktur pembiayaan negara dan menjaga keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang. Langkah ini juga mencerminkan upaya pemerintah untuk membangun hubungan ekonomi yang lebih erat dengan mitra-mitra strategisnya di kawasan Asia. Keberhasilan penerbitan panda bond akan menjadi indikator positif terhadap kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia.











