Indonesia Bukan Lagi Raja Bursa Asia Tenggara, Singapura Ambil Alih

Budi Santoso

Indonesia Bukan Lagi Raja Bursa Asia Tenggara, Singapura Ambil Alih

Pasar keuangan Indonesia kembali diterpa kabar negatif. Kali ini, Indonesia harus rela kehilangan tahtanya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara, posisinya kini diambil alih oleh Singapura. Data terbaru dari Bloomberg menunjukkan bahwa total nilai pasar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan drastis lebih dari 30% sejak mencapai puncaknya pada Januari lalu. Nilai pasar Indonesia kini menyentuh angka US$ 618 miliar, setara dengan Rp 10.000 triliun. Sebaliknya, nilai pasar saham Singapura justru mengalami kenaikan menjadi US$ 645 miliar.

Kondisi ini mencerminkan melemahnya kepercayaan investor terhadap Indonesia, seperti yang dilaporkan oleh Strait Times pada Rabu, 20 Mei 2026. Salah satu kekhawatiran utama yang memicu sentimen negatif adalah ketidakpastian mengenai kemungkinan pasar saham Indonesia diturunkan statusnya menjadi frontier market. Perubahan klasifikasi ini dapat memengaruhi aliran dana investasi asing.

Selain itu, lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings dan Moody’s, turut memberikan dampak negatif dengan menurunkan prospek rating kredit Indonesia menjadi negatif. Keputusan ini semakin memperkuat kekhawatiran investor mengenai stabilitas ekonomi dan prospek jangka panjang Indonesia. Akibatnya, pasar saham Indonesia menjadi salah satu yang berkinerja terburuk jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Di tengah situasi ini, nilai tukar rupiah juga terus mencetak rekor terlemah terhadap dolar Amerika Serikat, menambah beban kekhawatiran investor.

Baca Juga :  Sabo Dam Aek Tukka Percepat Rehabilitasi Pascabencana Sumut

Soh Chih Kai, Manajer Portofolio di Lion Global Investors, mengakui bahwa kondisi saat ini memang belum berpihak pada Indonesia. Namun, ia tetap melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk bangkit di masa depan. Meski demikian, situasi yang terjadi saat ini semakin mempertegas posisi Singapura sebagai pasar yang dianggap lebih aman dan pasti oleh investor global. Hal ini terutama penting di tengah ketidakpastian kebijakan global yang terus meningkat.

Di sisi lain, saham-saham di Singapura mendapatkan dorongan signifikan dari stabilitas ekonomi dan politik yang terjaga, serta reformasi pasar yang gencar dilakukan oleh pemerintahnya. Indeks Straits Times bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi pada pekan ini. Lonjakan ini disebabkan oleh investor yang mencari aset yang lebih aman untuk melindungi portofolio mereka di tengah gejolak global, termasuk dampak dari perang Iran. Jika tren positif ini terus berlanjut, diperkirakan saham Singapura akan mengungguli saham Indonesia dengan selisih terbesar sepanjang sejarah pada tahun 2026. Pemerintah Indonesia sendiri tengah berupaya membenahi pasar modal, salah satunya dengan menindak praktik saham gorengan, demi mengembalikan kepercayaan investor.

Also Read

Tinggalkan komentar