IHSG Turun 0,82%, Sektor Migas & Petrokimia Anjlok

Budi Santoso

IHSG Turun 0,82%, Sektor Migas & Petrokimia Anjlok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,82% pada perdagangan Rabu (20/5) ke level 6.318,50. Pelemahan ini didominasi oleh sektor basic industry yang terkoreksi dalam hingga 4,67%. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi penopang pasar dengan kenaikan 1,21%, didorong oleh saham Mora Telematika Indonesia (MORA) yang melesat 19,75%, diikuti Sinarmas Multiartha (SMMA) naik 8,49%, dan Bank Mandiri (BMRI) menguat 2,42%.

Saham-saham grup petrokimia dan energi menjadi pemberat utama IHSG. Chandra Asri Pacific (TPIA) tercatat turun 14,74%, Barito Pacific (BRPT) melemah 10,18%, dan Barito Renewables Energy (BREN) terkoreksi 7,62%. Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp130,88 miliar di pasar reguler, namun secara keseluruhan pasar, investor asing masih membukukan beli bersih sebesar Rp249,17 miliar.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara, yang dinilai memberi tekanan pada saham berbasis komoditas. Pelaku pasar juga menanti rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed serta data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026 yang diproyeksikan mencatat defisit US$4,50 miliar. Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat, dengan Dow Jones naik 1,31%, S&P 500 bertambah 1,08%, dan Nasdaq menguat 1,55%.

Dalam berita emiten, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (INDY) melaporkan laba bersih US$13,59 juta pada kuartal I-2026, meningkat 33,88% dari tahun sebelumnya. Pendapatan INDY naik tipis menjadi US$493,21 juta, didorong oleh peningkatan pendapatan investasi sebesar 73,51% pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd. Total beban perusahaan turun 1,57% menjadi US$419,18 juta, berkat penurunan beban pokok penjualan yang dipengaruhi kenaikan persediaan batu bara.

Baca Juga :  IHSG Merosot 0,92% Imbas Jual Asing & Evaluasi MSCI

PT Citra Borneo Utama Tbk (CSRA) menargetkan volume pengolahan tandan buah segar (TBS) sebanyak 700 ribu ton tahun ini, naik dari realisasi tahun sebelumnya. Hingga kuartal I-2026, produksi TBS perseroan telah mencapai 18% dari target. Untuk mendukung ekspansi, CSRA menganggarkan belanja modal Rp100 miliar untuk program replanting dan penambahan landbank, serta menargetkan pendapatan tumbuh menjadi Rp2 triliun.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar untuk aksi pembelian kembali saham (buyback) menggunakan kas internal. Posisi kas perseroan pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp2,75 triliun. Aksi buyback akan dilakukan dalam periode 20 Mei hingga 19 Agustus 2026 melalui Ina Sekuritas Indonesia, dengan jumlah saham mengacu pada ketentuan POJK terkait saham treasuri.

Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Berinvestasilah secara bijak.

Also Read

Tinggalkan komentar