IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Bersih Rp 5,8 T

Budi Santoso

IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Bersih Rp 5,8 T

Tekanan di pasar saham berlanjut, terbukti dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot ke level 6.956,80 dalam sepekan terakhir. Pelemahan ini mencapai 2,52 persen, dan jika diakumulasikan sejak awal tahun, IHSG telah tergerus 19,55 persen dari posisi akhir tahun sebelumnya. Kondisi pasar yang sedang bergejolak ini juga ditandai dengan aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp 5,8 triliun dalam sepekan. Secara total, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia sepanjang tahun ini telah mencapai Rp 45,38 triliun, sebuah angka yang signifikan dan menunjukkan adanya pergeseran sentimen investor.

Menurut David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), tekanan yang dialami pasar saham tidak semata-mata disebabkan oleh faktor teknikal. David menjelaskan bahwa kondisi global turut berperan besar dalam pelemahan ini. "Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa, ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten," ujarnya. Ia merujuk pada kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan oleh Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu utama. Kenaikan suku bunga acuan di negara adidaya tersebut secara umum berdampak pada likuiditas global dan membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik bagi investor.

Selain itu, ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah juga menambah ketidakpastian di pasar finansial global. Situasi ini menciptakan iklim yang cenderung membuat investor bersikap risk-off, yaitu menghindari aset-aset yang dianggap berisiko tinggi. Imbas dari ketegangan geopolitik ini juga terasa pada kenaikan harga energi, seperti minyak mentah, yang kemudian berpotensi memicu tekanan inflasi lebih lanjut di berbagai negara. Inflasi yang tinggi dapat menggerus daya beli konsumen dan berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan, sehingga investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya.

Baca Juga :  TBS Energi Utama Catat Kinerja Gemilang Q1 2026

Dalam menghadapi situasi pasar yang penuh tantangan ini, David Kurniawan memberikan saran kepada investor ritel untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih saham. Beberapa sektor dinilai lebih rentan terhadap pelemahan pasar. Sektor konsumsi dan transportasi, misalnya, diperkirakan akan tertekan lebih lanjut akibat kenaikan biaya operasional yang dipicu oleh inflasi dan kenaikan harga energi. Biaya produksi yang meningkat dapat mengurangi margin keuntungan perusahaan di sektor-sektor ini.

Sebaliknya, David menyarankan untuk mencermati saham-saham yang berbasis komoditas. Ia menyebutkan bahwa saham berbasis komoditas seperti nikel dan minyak sawit mentah (CPO) dinilai masih memiliki ketahanan yang lebih baik di tengah kondisi pasar yang sulit ini. Harga komoditas cenderung berfluktuasi seiring dengan permintaan global dan kondisi pasokan, namun dalam situasi inflasi, komoditas tertentu seringkali menjadi lindung nilai yang menarik.

Memandang ke depan, prospek pasar dalam sepekan mendatang diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan dengan kecenderungan risk-off yang moderat. IHSG berpotensi menguji level support di kisaran 6.918 hingga 6.696. Level support ini merupakan area harga di mana tekanan jual diperkirakan akan mereda dan potensi pembelian mulai muncul, meskipun dalam skala yang terbatas.

Dalam konteks rekomendasi investasi, IPOT menyarankan investor untuk mencermati kembali saham-saham berbasis komoditas. Selain itu, beberapa emiten spesifik juga direkomendasikan untuk dicermati, yaitu AADI, LSIP, dan SSIA. Pilihan emiten ini kemungkinan didasarkan pada fundamental perusahaan yang dinilai kuat dan prospek bisnis yang tetap cerah meskipun dalam kondisi pasar yang bergejolak. Tidak hanya itu, sebagai alternatif untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian pasar saham, instrumen obligasi seperti seri FR106 juga dinilai menarik. Obligasi umumnya dianggap sebagai aset yang lebih aman dibandingkan saham, terutama dalam kondisi pasar yang berisiko.

Baca Juga :  Petani, Peternak, & Kades Bangun Ketahanan Pangan Jatim

Also Read

Tinggalkan komentar