Petani, Peternak, & Kades Bangun Ketahanan Pangan Jatim

Budi Santoso

Petani, Peternak, & Kades Bangun Ketahanan Pangan Jatim

Di kaki Gunung Penanggungan, Mojokerto, Slamet memilih bertani organik sejak 2007, fokus pada kesehatan tanah dan keberlanjutan mikroba. Berbeda dengan pertanian konvensional yang mengandalkan pupuk kimia, metode organik ini memperkaya kembali biota tanah, menciptakan ekosistem yang sehat. Slamet, inisiator Komunitas Organik Brenjonk, menekankan bahwa pertanian organik adalah jalan yang lebih jujur dan berkelanjutan.

Di Lamongan, Tomi Distianto memimpin koperasi peternakan yang tak hanya beternak sapi, tetapi juga mendirikan "Bank Limbah Ternak Koperasi Sumbersari" (LITERASI). Bank ini memungkinkan warga menabung kotoran ternak dan menukarnya dengan manfaat ekonomi, seperti pupuk organik berkualitas. Inovasi ini mengubah masalah lingkungan menjadi aset berharga, menciptakan ekosistem bisnis yang beragam mulai dari penjualan pupuk hingga layanan katering dan edukasi peternakan.

Dari Ladang ke Meja Makan, BI Kawal Harga Pangan dari Hulu ke Hilir

Sementara di Nganjuk, Kepala Desa Mojorembun Bambang Soeparno berperan penting dalam menjaga benih bawang merah varietas Tajuk. Nganjuk menjadi pemasok hampir separuh kebutuhan benih bawang merah nasional, dengan luas lahan bawang merah mencapai 20 ribu hektare per tahun. Pendampingan Bank Indonesia (BI) sejak 2015 telah membantu petani Nganjuk dalam berbagai aspek, mulai dari teknologi irigasi hingga pengembangan produk olahan seperti bawang merah krispi dan pasta bawang merah.

Ketiga cerita ini menjadi bukti nyata dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026 yang digagas Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID). GPIPS menekankan bahwa menjaga stabilitas harga pangan dimulai dari hulu, yaitu dari ladang, kandang, hingga sawah, jauh sebelum dampaknya terlihat pada angka inflasi nasional.

Baca Juga :  Investasi Indonesia Tumbuh Pesat Awal 2026, PDB Naik 5,96%

GPIPS diluncurkan pada 13 Mei 2026 di Sidoarjo sebagai penyempurnaan dari program sebelumnya, Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa GPIPS tidak hanya berfokus pada stabilisasi harga jangka pendek, tetapi juga pada penguatan produksi, pascapanen, dan distribusi pangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

Dari Ladang ke Meja Makan, BI Kawal Harga Pangan dari Hulu ke Hilir

Program ini berjalan melalui tujuh program unggulan, termasuk peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi dan kelembagaan petani, optimalisasi kerja sama antar daerah, fasilitasi distribusi pangan, operasi pasar, penguatan neraca pangan, serta komunikasi pengendalian ekspektasi inflasi. Tiga komoditas prioritas utama dalam program ini adalah beras, cabai, dan bawang merah.

Komunitas Organik Brenjonk di Mojokerto, Koperasi Literasi Sumbersari di Lamongan, dan Gapoktan Karya Abadi di Nganjuk merupakan tiga dari sekian banyak klaster yang dibina oleh BI sebagai ujung tombak program GPIPS. Pendampingan BI meliputi berbagai aspek, mulai dari teknologi pertanian, pengembangan produk olahan, hingga penguatan kelembagaan dan akses pasar.

Di Nganjuk, BI membantu petani dengan penggantian pompa air diesel ke pompa submersible bertenaga listrik yang jauh lebih efisien, serta pelatihan diversifikasi produk pangan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk meningkatkan nilai tambah bawang merah. Di Lamongan, BI membina Koperasi Literasi Sumbersari, yang berhasil mengubah limbah ternak menjadi pupuk organik dan mengembangkan berbagai lini usaha ekonomi kerakyatan. Sementara di Mojokerto, BI mendampingi Komunitas Organik Brenjonk dalam penguatan kapasitas, infrastruktur, hingga pengembangan agrowisata dan kuliner berbasis produk organik.

Baca Juga :  Diskon Gila Transmart Full Day Sale: Alat Makan Cuma Rp 12 Ribu Saja!
Dari Ladang ke Meja Makan, BI Kawal Harga Pangan dari Hulu ke Hilir

Pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi peluncuran GPIPS Wilayah Jawa tidak lepas dari peran strategisnya sebagai lumbung pangan nasional. Provinsi ini merupakan produsen terbesar padi, nomor satu cabai rawit, dan pemasok bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Semangat perjuangan yang melekat pada Jawa Timur, khususnya Surabaya, juga menjadi simbol pentingnya menjaga kedaulatan pangan sebagai bagian dari perjuangan bangsa.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan komitmen Jatim dalam memperkuat perannya sebagai lumbung pangan nasional, termasuk melalui pengembangan pangan berbasis protein dan peningkatan konektivitas antar pasar. Dengan semangat kebersamaan dan inovasi, para petani, peternak, dan pemerintah daerah di Jawa Timur berupaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan dan kedaulatan pangan nasional.

Also Read

Tinggalkan komentar