IHSG Tertekan di Awal Juni, Asing Jual Bersih Rp66,2 T

Budi Santoso

IHSG Tertekan di Awal Juni, Asing Jual Bersih Rp66,2 T

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada awal perdagangan Rabu (3/6/2026), bahkan sempat menyentuh level psikologis 6.000. Aksi jual oleh investor asing yang terus berlanjut, ditambah dengan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global, menjadi beban utama pergerakan pasar saham domestik. Setelah dibuka pada level 6.207,102, IHSG tercatat merosot 2,77 persen ke posisi 6.023,673. Data dari RTI bahkan menunjukkan indeks menyentuh titik terendah 6.015,234 pada sesi pagi, menghapus sepenuhnya penguatan yang berhasil dibukukan pada hari sebelumnya.

Financial Expert dari Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menjelaskan bahwa arus keluar dana asing masih menjadi faktor dominan yang menghambat penguatan pasar saham Indonesia. Hingga tanggal 2 Juni 2026, investor asing tercatat membukukan jual bersih senilai sekitar Rp66,2 triliun sepanjang tahun berjalan. "Meskipun IHSG mengawali bulan Juni dengan penguatan, arus keluar dana asing masih berlanjut sehingga menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan indeks," ujar Ratih dalam risetnya pada Rabu (3/6/2026).

Tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.918 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu. Dari sisi domestik, investor mencermati data inflasi Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen secara tahunan, menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan angka 2,42 persen pada bulan April. Kenaikan harga energi dan bahan pangan menjadi pendorong utama di balik lonjakan inflasi tersebut.

Baca Juga :  Rupiah Loyo, PHK Mengintai Industri Nasional

Pasar juga memberikan respons terhadap penyusutan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026, yang tercatat sebesar 89,1 juta dolar AS, menurun drastis dari angka 3,32 miliar dolar AS pada Maret. Meskipun demikian, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, sebuah pencapaian yang patut dicatat.

Dari ranah eksternal, pelaku pasar secara aktif memantau kenaikan harga minyak mentah Brent yang semakin mendekati angka 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Investor juga menantikan perkembangan terkini terkait hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, serta situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis krusial bagi perdagangan energi global.

Menghadapi volatilitas pasar yang terus berlangsung, Ratih memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.250 pada perdagangan hari ini. Dalam situasi ini, Ajaib Sekuritas merekomendasikan strategi akumulasi beli untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga yang ditetapkan pada Rp6.000 per saham. Selain itu, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dinilai menarik untuk dicermati, terutama setelah pemegang saham pengendali melakukan penambahan kepemilikan saham. Sementara itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) direkomendasikan untuk strategi speculative buy, yang ditujukan bagi investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi. Rekomendasi ini mencerminkan strategi yang disesuaikan dengan kondisi pasar yang dinamis dan potensi masing-masing emiten.

Baca Juga :  Rupiah Terpuruk Lagi, Sentuh Rp 17.502 Terhadap Dolar AS

Also Read

Tinggalkan komentar