
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (11/5/2026) sore ditutup melemah signifikan sebesar 63,78 poin atau 0,92 persen, merosot ke level 6.905,62. Pelemahan ini terjadi meskipun sempat terjadi pergerakan teknis rebound terbatas di tengah pasar. Awalnya, IHSG menunjukkan sedikit perbaikan setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan penundaan penerapan tarif royalti untuk komoditas tambang. Kabar ini sempat memberikan sentimen positif singkat, mendorong indeks untuk bangkit dari koreksi yang terjadi pada sesi pertama perdagangan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa penundaan penerapan tarif royalti komoditas tambang untuk tembaga, timah, nikel, emas, dan perak ini dilakukan guna menyusun formulasi yang lebih optimal dan adil bagi seluruh pihak yang terlibat. Keputusan ini diharapkan dapat memberikan kepastian dan keseimbangan dalam industri pertambangan. Namun, euforia tersebut tidak berlangsung lama.
Meskipun ada kabar baik dari Kementerian ESDM, sentimen negatif kembali muncul dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menegaskan bahwa aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang akan tetap diberlakukan mulai awal Juni 2026, seiring dengan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) yang menyertainya. Ketidakpastian mengenai implementasi aturan royalti ini, meskipun ada penundaan sementara, dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG hingga akhirnya harus parkir di zona merah pada penutupan perdagangan.
Selain isu royalti, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) turut menambah beban sentimen negatif bagi pasar saham domestik. Fluktuasi mata uang asing yang melemah ini seringkali menjadi indikator kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi.
Di kancah global, mayoritas indeks saham di bursa Asia juga mengalami pelemahan. Hal ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia, yang dipicu oleh penolakan proposal damai dari Iran oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Gejolak geopolitik dan kenaikan harga komoditas energi seringkali berdampak pada sentimen pasar keuangan secara keseluruhan, termasuk pasar di Indonesia.
Menyikapi berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar, Phintraco Sekuritas memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam beberapa waktu ke depan. Indeks diperkirakan akan menguji level support krusial di kisaran 6.750 hingga 6.850 poin. Level support ini menjadi area penting yang perlu dicermati untuk melihat apakah ada tekanan jual yang signifikan atau justru terjadi pembalikan arah.
Sepanjang perdagangan hari itu, tercatat sebanyak 263 saham berhasil menguat, sementara 463 saham mengalami pelemahan, dan 233 saham lainnya stagnan atau tidak bergerak. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp 12.283 triliun, menunjukkan nilai total saham yang diperdagangkan di bursa.
Aktivitas perdagangan hari itu cukup ramai dengan total 39,08 miliar saham diperdagangkan. Frekuensi transaksi mencapai 2,8 juta kali, sementara nilai transaksi tercatat sebesar Rp 20,41 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya minat investor untuk melakukan jual beli saham.
Dari sisi sektoral, hanya sektor infrastruktur yang mampu mencatatkan penguatan positif sebesar 1,52 persen pada penutupan perdagangan. Sektor ini menunjukkan ketahanan di tengah pelemahan umum. Sebaliknya, pelemahan yang cukup merata terjadi di berbagai sektor lainnya. Sektor transportasi menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 2,88 persen, diikuti oleh sektor energi sebesar 2,02 persen. Sektor keuangan melemah 1,74 persen, sektor perindustrian 1,46 persen, dan sektor kesehatan 1,05 persen. Sektor barang konsumen primer turun 0,88 persen, sektor properti 0,80 persen, sektor teknologi 0,53 persen, sektor barang baku 0,19 persen, dan sektor barang konsumen nonprimer 0,13 persen. Keberagaman pelemahan sektoral ini menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi secara luas.











