Utang Pinjol & Paylater Meningkat: Ancaman Kemiskinan Struktural

Budi Santoso

Utang Pinjol & Paylater Meningkat: Ancaman Kemiskinan Struktural

Jumlah utang masyarakat pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater terus meningkat pesat dari waktu ke waktu. Fenomena ini mencerminkan ketergantungan masyarakat yang kian besar pada utang untuk sekadar bertahan hidup. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menyoroti bahwa di balik peningkatan tajam ini, terdapat risiko yang sangat nyata dan tidak boleh diremehkan. Salah satu beban terbesar adalah bunga utang yang terus membengkak, menjadi pengeluaran tambahan yang signifikan bagi para debitur.

Beban bunga ini secara langsung menggerogoti daya beli masyarakat. Ketika daya beli melemah, para debitur terpaksa mencari pinjaman baru untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menciptakan lingkaran setan "gali lubang tutup lubang" yang sulit untuk diputus. Tauhid Ahmad menekankan bahwa pertumbuhan utang ini bukanlah pertanda baik, sebab mayoritas pinjaman tersebut bersifat konsumtif, bukan untuk mendukung kegiatan produktif atau pengembangan dunia usaha. "Kalau lihat growth-nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha," jelasnya.

Siklus utang ini dipandang tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Tauhid Ahmad berpendapat bahwa ketergantungan pada utang untuk bertahan hidup akan semakin memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga, terutama karena rata-rata kenaikan pendapatan tahunan seringkali tidak sebanding dengan laju inflasi atau peningkatan biaya hidup. "Konsumsi rumah tangga berbasis utang itu tidak sehat karena dia harus membayar bunga utang di bulan-bulan berikutnya. Tetapi pendapatan dia itu kan pertumbuhan kenaikan income-nya tidak sebesar bunga utangnya sehingga konsumsi dia melalui pinjaman online itu menjadi tidak sehat," tegasnya.

Baca Juga :  Kevin Warsh Pimpin The Fed, Pasar Soroti Kebijakan Suku Bunga

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, turut mengamini kekhawatiran ini. Ia menyatakan bahwa penggunaan utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari berisiko besar menjebloskan pengguna ke dalam jerat utang yang lebih dalam. "Masyarakat akan terjebak ketergantungan utang yang konsumtif, ketika kesulitan mencicil akan tergoda meminjam lagi dari platform lainnya," ungkapnya. Bhima menambahkan bahwa lonjakan penggunaan paylater bukanlah indikator pertumbuhan kredit yang sehat, melainkan justru menunjukkan kerentanan ekonomi. "Kenaikan paylater ini bukan indikator pertumbuhan kredit yang berkualitas, justru menunjukkan kerentanan. Begitu terjadi sudden shock pada ekonomi, NPL dari paylater akan naik lebih tajam dari jenis kredit modal kerja dan kredit produktif lainnya," tambahnya.

Jika tren negatif ini terus berlanjut, alih-alih menjadi solusi untuk bertahan hidup, siklus utang pinjol dan paylater ini justru berpotensi menyeret masyarakat ke dalam jurang kemiskinan struktural. Kebutuhan konsumtif yang dibiayai melalui utang ini tidak sejalan dengan kemampuan finansial jangka panjang, sehingga risiko gagal bayar sangat tinggi. Dalam situasi terburuk, masyarakat terpaksa menggadaikan aset mereka demi melunasi pinjaman. "Bisa jatuh ke kemiskinan secara struktural, karena pinjaman konsumtif tidak sesuai dengan kebutuhan. Gagal bayar sangat mungkin terjadi dan aset di gadaikan untuk melunasi pinjaman," pungkas Bhima.

Also Read

Tinggalkan komentar