
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam, ditutup melemah 4,11% ke level 5.941,06 pada perdagangan Rabu (3/6). Pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan indikator ekonomi Indonesia yang menunjukkan perlambatan. Indeks sempat menyentuh level terendah di 5.841,99 di tengah sesi perdagangan.
Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menjadi penyebab utama koreksi IHSG. Data Bloomberg mengkonfirmasi penguatan dolar AS sebesar 0,71% terhadap rupiah, mencapai Rp 17.966,5. Selain itu, saham-saham emiten konglomerasi yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai auto reject atas (ARA), ikut membebani IHSG dengan melemah secara kompak pada hari itu. Herditya menambahkan bahwa IHSG masih berada dalam fase penurunan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang valid secara teknikal.
Lebih lanjut, Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyoroti perlambatan ekonomi Indonesia yang tercermin dari penurunan surplus neraca dagang per April 2026. Surplus neraca dagang yang hanya mencapai US$ 89,1 juta merupakan level terendah dalam enam tahun terakhir, mengindikasikan kontribusi sektor eksternal yang melemah dan menjadi penahan laju penguatan IHSG.
Sentimen global juga turut berkontribusi pada ketidakpastian pasar. Pelaku pasar sedang mencermati penyesuaian indeks saham RI dalam indeks global FTSE Russell yang akan dilakukan pada 22 Juni mendatang. Ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran, serta operasi militer Israel di Lebanon, menambah volatilitas di pasar global. Selain itu, investor juga menantikan rilis data US Nonfarm Payrolls per Mei akhir pekan ini, yang dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik ini secara kolektif memberikan tekanan pada pasar saham Indonesia, mendorong IHSG ke zona merah.











